Minggu, 28 Desember 2008

Breakfast at Tiffany's


Sutradara: Blake Edwards
Skenario: George Axelrod
Pemain: Audrey Hepburn, George Peppard, dll.
Masa putar: 115 menit
Tahun: 1961

Sebagai penggemar film-film jadul (baca: klasik) tentu aku tak akan melewatkan film yang satu ini. Film yang naskahnya dibuat berdasarkan novel karya Truman Capote dirilis pertama kali pada tahun 1961. Filmnya sudah berwarna dengan setting New York awal 60-an.

Inginnya sih aku membaca lebih dulu novelnya, tetapi karena yang ada padaku sekarang adalah DVD-nya - itu pun dapat pinjaman dari teman - ya akhirnya nonton filmnya saja dulu. Menurut gosip dari sumber yang sangat bisa dipercaya, novelnya bakal terbit tahun depan. Diterjemahkan oleh penerjemah keren - demikian sang penerjemah melekatkan predikat itu pada dirinya dan memang harus diakui keren *uhuk* - Berliani Nugrahani. Diterbitkan oleh penerbit baik hati : Serambi *lidah menjulur-julur tanda menjilat agar dibuntelin gratis novel ini*.

Film dibuka dengan pemandangan pagi hari di depan etalase toko perhiasan "Tiffany's". Tampak di depan kaca yang memajang aneka model berlian itu seorang wanita cantik dalam dandanan sempurna. Gaun malam hitam elegan membalut tubuh kurusnya. Rambutnya ditata menjadi sebuah sanggul tinggi yang memperlihatkan leher eloknya. Sayup-sayup mengalun instumentalia "Moon River" mengiringi langkah anggun wanita tadi menuju flatnya tak jauh dari Tiffany's.

Si cantik itu adalah Holly Golightly (Audrey Hepburn), wanita yang tinggal sendiri - hanya ditemani seekor kucing gendut yang dipanggil Cat - di salah satu lantai apartemen itu. Holly yang tenyata bernama asli Lula Mae memiliki masa lalu yang kurang bahagia. Pada usia 14 tahun dia menikah dengan Doc Golightly (Buddy Ebsen) di Texas. Kemudian ia kabur ke New York dan menghidupi diri dengan cara apa pun, termasuk mengencani pria-pria kaya. Di New York, Holly atau Lula mae ini menghabiskan waktunya dengan mengunjungi pesta-pesta dan pulang pagi dalam kondisi mabuk berat. Dari para kencannya, Holly semata-mata hanya menginginkan uang mereka.

Di apartemen tersebut, Holly berkenalan dengan Paul Varjak (George Peppard), seorang penulis yang memiliki affair dengan wanita bersuami, 2E. Namun, belakangan kehadiran Holly yang polos sekaligus liar itu telah merebut perhatian dan membuat Paul terpikat. Ia jatuh cinta pada Holly dan memutuskan hubungan dengan 2E. Akan tetapi Holly yang tidak lagi percaya pada cinta, tampaknya keberatan dengan perkembangan hubungan itu dan memilih pergi ke Brazil bersama Jose, pria kaya raya yang berjanji menikahinya.

Kalau kalian menduga ini sebuah film drama serius, tidak terlalu tepat juga, sebab banyak scene yang menampilkan adegan-adegan lucu yang mengundang senyum seperti di film-film komedi. Praktis drama ini dimainkan berdua saja oleh si molek Hepburn dan si tampan George Peppard. Untuk aktingnya sebagai Holly, Audrey diganjar nominasi Oscar sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik, meskipun ada satu adegan yang gagal dibawakan dengan baik, yakni ketika ia harus tampil mabuk berat. Bajunya tetap rapi, riasannya tanpa cela seperti saat belum mabuk, tak ada sedikit pun rona merah di wajah dan mata layaknya orang mabuk. Yang dilakukannya hanya mengubah cara bicara dan gesturenya saja. Mungkin ini yang menyebabkan ia tak berhasil memboyong Oscar (sok tahu).

Tetapi Aku suka banget waktu dia menyanyikan sound track film ini: "Moon River"; sembari duduk di bingkai jendela dan memetik gitar kecil. Ia tampak bagaikan peri. Musiknya digarap oleh Henru Mancini dan liriknya ditulis oleh Johnny Mercer. Lagu yang keren. Tak heran jika di ajang Oscar berhasil meraih predikat best original song.

Satu hal lagi yang menarik untuk dipandang di film ini selain paras jelita Audrey Hepburn adalah gaun-gaun yang dikenakannya, hasil rancangan Hubert de Givenchy. Baru-baru ini konon gaun-gaun indah tersebut berhasil dilelang dengan harga tinggi.

Sesungguhnya film garapan Blake Edwards ini memikat. Sayang, endingnya Hollywood banget : Holly dan Paul berciuman di bawah siraman hujan *spoiler* :D (maaf..maaf..maaf..). Entahlah, apakah memang bukunya juga berakhir demikian? Tapi kalau aku sutradaranya, aku akan hentikan film dengan kepergian Paul.

Moon River


Moon River, wider than a mile,

I'm crossing you in style some day.

Oh, dream maker, you heart breaker,

wherever you're going I'm going your way.

Two drifters off to see the world.

There's such a lot of world to see.

We're after the same rainbow's end--

waiting 'round the bend,

my huckleberry friend,

Moon River and me.

Minggu, 21 Desember 2008

9 1/2 Weeks


Skenario: Sarah Kernochan & Zalman King

Pemain: Mickey Rourke, Kim Bissinger

Masa putar: 112 menit

Tahun: 1986


Sebelum menonton film ini, aku sudah sering banget mendengar tentang kehebohannya, bukan saja ketika diputar 22 tahun yang lalu, tetapi juga sampai kini. Di antara teman-temanku yang seangkatan (80-an gitu loh), film ini masih sering dirumpiin. Kata mereka sih ini film seks. Apa sih yang dimaksud film seks itu? Apakah film yang bercerita tentang pendidikan seks? Atau film yang melulu berisi adegan seks (yang berarti sama dengan film biru)? Atau film cerita dengan kategori "untuk dewasa" karena ada adegan-adegan seksnya yang tidak boleh dilihat anak-anak di bawah 17 tahun?

Sebelum menonton secara utuh film tersebut, aku sempat mencuri-curi mengintipnya lewat situs www.youtube.com. Penggalan-penggalan yang kulihat itu cukup mewakili dan membuat penasaran hingga akhirnya aku menyaksikannya secara utuh. Setelah melihatnya, kesimpulanku 9 1/2 Weeks ini jenis film dewasa yang memuat beberapa adegan "dewasa.


Namun, sungguh tidak seheboh yang pernah kubayangkan. Adegan percintaan dua orang tokoh utamanya, John (Mickey Rourke) dan Elizabeth (Kim Bassinger) adalah adegan seks biasa yang sering kita lihat di film-film dewasa. Jadi sama sekali tidak vulgar. Maksudku, bukan adegan seks seperti di film-film porno itu loh. Ada juga sih yang sedikit liar, tetapi menurutku itu tidak porno. Kalaupun ada scene yang memperlihatkan Elizabeth bugil, itu hanya disyut dari belakang (cuma bokong dan punggungnya yang terlihat dalam pencahayaan temaram).


Ceritanya juga tidak terlampau menarik, ihwal hubungan cinta John dan Liz yang dipertemukan secara tidak sengaja di sebuah keramaian kota New York yang sibuk. John seorang pebisnis yang menyembunyikan asal-usul serta latar belakang kehidupannya; sedangkan Liz bekerja di sebuah biro seni. Setiap kali bertemu, John selalu berupaya merayu Liz dan pada pertemuan yang ketiga, mereka bercinta. Barangkali bagian-bagian permainan cinta ini yang dianggap heboh, karena menampilkan "jurus-jurus" bercinta mulai dari yang romantis sampai yang paling liar (Tidak liar-liar amat sih sebenarnya).


Hari ke hari, dari jalinan hubungan itu, mulai tumbuh cinta di hati Liz. Setiap saat hanya John yang ia harapkan ada di sisinya. Setiap saat ia ingin bersama John. Ia juga ingin agar John mau mengetahul lebih jauh kehidupannya, mengenal teman-temannya. Namun, John menolak. Baginya cukup Liz saja. Biarlah siang hari Liz menjadi milik dirinya dan teman-temannya. John cukup puas memiliki Liz di malam hari, untuk sebuah permainan cinta yang menggairahkan. Lama kelamaan Liz mulai merasa relasi mereka bukanlah relasi yang normal. John hanya menginginkan tubuhnya. John hanya ingin menikmati seks dengannya. Liz tak bisa meneruskan hubungan tersebut meski John berusaha meyakinkannya dengan kata-kata cinta.


Film berdurasi hampir dua jam ini akhirnya terasa membosankan. Ceritanya tidak cukup nggreget. Satu-satunya hal yang membuatku bertahan sampai film usai adalah karena penasaran berharap akan tampil adegan "hot" yang nyaris menjadi cap buat film ini. Dan aku harus "kecewa" sebab adegan sejenis itu tidak ada, kecuali kalau adegan bercinta di bawah pancuran itu tergolong hot sih. Pastinya sewaktu diedarkan di bioskop kita dulu, adegan-adegan tersebut sudah kena gunting LSF (sekarang BSF). Lebih garing lagi kan?


Tetapi harus kuakui, gambar-gambar yang dihadirkan cukup keren. Juga soundtracknya. Sementara, akting Rourke dan Kim sih biasa-biasa saja. Tidak menonjol. Tapi yang jelas, aku sekarang tidak penasaran lagi sama film ini.***

Sabtu, 06 Desember 2008

Twillight (The Movie/2008)



Baiklah, Twillight. Seperti halnya buku-buku lain yang terlalu di-overrated (misalnya, Laskar Pelangi, Harry Potter and The Deathly Hallows, Ayat-Ayat Cinta), aku memang cenderung malas membaca. Dan kalau pada akhirnya filmnya main duluan, ya sudahlah nonton saja (eh, tapi aku ga nonton Ayat-Ayat Cinta karena sudah mencicipi bukunya dan muak sebelum habis sepertiga).

Twillight pun begitulah adanya. Seingatku, heboh buku ini sudah dimulai sekitar setahun yang lalu. Berbagai review mulai beredar dengan kekuatan berimbang antara yang memuja-mujanya dan mencela-celanya. Lalu, beberapa bulan terakhir ini, setelah terjemahannya beredar, makin santerlah demam Twillight ini. Ada yang bikin Klub Pecinta Edward, ada yang bikin Klub Pembenci Bella. Hingga di suatu titik, aku penasaran juga, macam apa sih sebenarnya ini buku, dan aku pun mengunduh keempat e-booknya. Belum sempat dibaca (tentu saja), filmnya sudah beredar. Jadi, kita tinggalkan saja bukunya, hahahaa.

Maka, tanpa ekspektasi apa pun (karena sama sekali belum baca bukunya dan nggak tahu karakter-karakternya), aku menonton film ini bersama Miss Icha (yang sudah membaca bukunya dan belum memutuskan apakah dia menyukainya atau tidak) di sebelah kanan dan seorang cowok tidak dikenal (yang tampaknya juga sudah membaca dan ngefans pada bukunya) di sebelah kiri. Yang aku tahu hanyalah, ini cerita tentang kisah cinta antara dua dunia, manusia dan vampir (bukan Isabella dong ya, hahaa.)

Baru setengah jam film berjalan, aku sudah memutuskan, aku nggak suka sama Bella Swan (Kristen Stewart). Sebagai tokoh utama, Bella ini terlalu nggak jelas. Maksudnya, karakternya yang nggak jelas. Yang terlihat olehku, dia gadis pemurung dan tertutup. Tapi, anehnya adalah, kenapa banyak banget yang suka padanya? Dia juga kadang-kadang cenderung kasar dan nggak menyenangkan dalam memperlakukan teman-temannya. Terlalu cantik tidak, terlalu pintar juga tidak, terlalu modis juga tidak, yah … hanya gadis yang sedang-sedang saja (yoah, kak Vetty banget). Dan cowok paling keren di sekolahnya jatuh cinta kepadanya? Owh, aku mengerti kenapa Prince Charming jatuh cinta kepada Cinderella. Tapi, kenapa Edward Cullen (dan beberapa cowok yang lain) jatuh cinta kepada Bella? Entahlah. Selain itu, biar pendiam begitu ternyata Bella agresif. Cenit sejati. Sigh.

Tapi, aku mengerti kenapa banyak orang (melirik banyak orang) jatuh cinta kepada Edward Cullen (Robert Pattinson). “Owwh … things like these,” beberapa kali terucap olehku dan segera diiyakan oleh Miss Icha. Misalnya, ketika Edward menggendong Bella dan melompat dari pohon ke pohon, atau ketika Edward melompat dengan gesit buat menyelamatkan Bella dari mobil yang mau menabraknya, atau kalimat-kalimat gombal mukiyo yang disampaikannya. (Ow, ternyata aku menganut “You don’t have to say it frequently, just say it at the right time” sehingga tidak terlalu terkesan juga pada pergombalan si Edward ini, hihihiii.) And he’s a vampire too.

Secara keseluruhan, sebagai sebuah film (ya, ini review filmnya, bukan bukunya loh ya!), Twillight ini biasa saja. Beneran, menurutku nggak ada yang oke banget dari film ini. Sebagai film remaja, kostumnya juga biasa saja (malah kata Miss Icha itu sudah lebih bagusan daripada yang diceritakan di bukunya). Karakter Bella yang pemurung juga jadi bikin betek yang nonton. Lagu-lagunya nggak ada yang nempel di telinga. Dan Edward, mmm, keren sih, tapi ya nggak sekeren itu. Dari segi cerita, ya biasa saja. Plotnya pun banyak lubang-lubang kecilnya. Make-up malah rada parah, karena vampir-vampir itu ya, kelihatan banget belangnya antara muka dan lehernya *tepok jidat*. Belum lagi, dialog yang kadang-kadang cheesy banget.

Yaahh … it’s just another teen movie. Tidak mengesankan buatku, tapi ini hanya masalah selera, bukan? Yang jelas, setelah nonton filmnya, aku sudah tidak penasaran lagi pada bukunya. Jadi, dua bintang saja deh. It’s just not for me, hahahaa ….

Kamis, 30 Oktober 2008

PEREMPUAN PUNYA CERITA


Cerita Pulau, Cerita Yogyakarta, Cerita Cibinong dan Cerita Jakarta. Empat cerita tersebut disajikan secara terpisah dan masing-masing berdiri sendiri tanpa ada kaitannya sama sekali namun tetap tergabung dan berdasarkan satu tema utama yaitu tentang perempuan (di Indonesia). Dan jadilah judulnya Perempuan punya Cerita (Chants of Lotus).

Disutradarai oleh empat sutradara wanita yaitu Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo dan Fatimah T. Rony. Film ini mengisahkan tentang berbagai macam masalah yang kerap dialami oleh perempuan-perempuan di Indonesia.

Kisah pelecehan seksual dan perkosaan yang terjadi di Kepulauan Seribu serta praktek aborsi oleh seorang Bidan yang kemudian di vonis menderita kanker payudara ada di Cerita Pulau. Rieke Diah Pitaloka yang bermain sebagai bidan Sumantri bermain cukup apik dan berhasil lepas dari sosok Oneng yang selama ini melekat padanya. Rachel Maryam juga berakting baik saat memerankan karakter gadis yang terbelakang mentalnya. Kisah klasik aborsi, perkosaan dan permohonan maaf melalui uang memang banyak menjadi dilema di negeri ini. Ketidakberdayaan dan ketidakmampuan ekonomi kerap membuat perempuan berada di pihak yang kalah.

Setting Kepulauan Seribu yang indah ditampilkan melalui komposisi dan angle-angle pengambilan gambar yang pas. Riak dan pantulan air laut, sepeda, perahu dan lainnya mengawali cerita film ini dan membuat film ini terasa semakin menarik.

Cerita Yogyakarta cukup membuat kita terhenyak dengan adanya realita seks bebas di kalangan pelajar kota besar seperti Yogyakarta dan mungkin di semua kota besar lainnya di Indonesia. Kirana Larasati sebagai tokoh utama yang masih berseragam abu-abu tampak bermain natural. Fauzi Baadilah yang berperan sebagai Jay, wartawan Jakarta yang menyamar jadi mahasiswa juga sedikit berbeda dengan peran-peran dia sebelumnya. Belia, dewasa tapi lugu. Itu mungkin kesan tentang kisah ini. Usia belia namun berperilaku seperti orang-orang dewasa karena menjadikan seks sebagai kebutuhan hidupnya namun juga lugu karena toh sebenarnya mereka masih polos dan kadang konyol. Misalnya saat mitos tentang nanas dan sprite yang bisa buat menggugurkan kandungan. Padahal mereka sehari-hari gemar berinternet ria. Rupanya kemudahan teknologi bagi kebanyakan orang belum dimanfaatkan buat kebaikan dan mendapatkan pengetahuan.



Selanjutnya di Cerita Cibinong, Shanty dan Sarah Sechan bermain gemilang. Berkisah tentang Esi (Shanty) yang bekerja di club dangdut. Meninggalkan Saroh, anaknya di rumah dengan pacarnya yang pengangguran. Sampai akhirnya ternyata si Saroh mengalami pelecehan seksual yang membuat Esi syok. Sementara Cicih (Sarah Sechan) adalah seorang penyanyi dangdut yang terobesesi untuk bisa hijrah ke Jakarta dan bermain di club dangdut yang lebih terkenal. Makanya saat bertemu Mansyur yang katanya bisa membuat dia dan Saroh menjadi terkenal di Jakarta dia begitu bersemangat. Cicih tidak sadar kalau sebenarnya Mansyur adalah seorang calo jaringan perdagangan anak. Bahasa dan logat Sunda yang dipakai oleh Esi dan Cicih sangat menarik dan membuat film ini menjadi semakin hidup. Ditunjang juga dengan musik dan penampilan yang “Dangdut banget” khas masyarakat kelas menengah ke bawah.



Susan Bahtiar di Cerita Jakarta tampil sebagai Laksmi, seorang penderita AIDS yang terlular dari suaminya yang semasa hidupnya pengguna narkoba. Dan cerita sederhana tentang seorang ibu dengan anak perempuannya itu pun berkembang. Stigma dan anggapan yang salah di masyarakat tentang HIV/AIDS mengemuka dan menjadi dilema serta beban yang berlipat buat Laksmi karena selain harus menghadapi penyakitnya dia juga harus menghadapi keluarga dan orang luar yang jauh dari mengerti. Tetap bersama anaknya dan hidup dalam kesusahan atau menyerahkan anaknya ke ibu mertuanya adalah pilihan sulit bagi seorang ibu seperti Laksmi ini.

Dalam Cerita Jakarta ini, detail-detail interior dan daerah pecinan dalam setting kisah ini berhasil ditampilkan menarik. Warung Chineese Food dengan daging babi yang tergantung, Vihara dengan detail dan warna merah serta emasnya sampai gang kawasan pecinan menjadi lebih istimewa di film ini.

==

Tidak ada bahasa yang menggurui dari semua kisah itu. Semua mengalir begitu saja. Malah sepintas semuanya memperlihatkan ketidakberdayaan perempuan. Kekalahan perempuan Indonesia karena satu dan banyak hal.

Namun menurutku disitulah Nia DiNata sebagai produser justru tengah membuka mata kita kalau masalah klasik seperti itu ada dan akan selalu ada di sekitar kita. Dengan kesederhanaannya kita diajak merenung dan semakin aware dengan apa yang terjadi.

Dan yang pasti, teriakan si Cicih di scene terakhir Cerita Cibinong memang benar adanya. Dengan berbahasa Sunda dia berteriak ke Esi, “Aya keneh harepan !” (Masih ada harapan !). Teriakan itu buat saya tidak semata-mata ditujukan kepada Esi agar terus berjuang mendapatkan kembali Saroh anaknya. Tapi juga teriakan buat semua perempuan Indonesia agar terus berharap serta berusaha untuk mendapatkan hak mereka agar menjadi lebih baik.


| imgar imama |

Rabu, 15 Oktober 2008

Mamma Mia!


Sutradara: Phyllida Lloyd
Skenario: Catherine Johnson
Pemain: Meryl Streep, Pierce Brosnan, Collin Firth, dll.
Masa putar: 108 menit
Tahun: 2008

Hey, Anda generasi 80-an, tentu masih ingat dengan baik - seperti saya - grup band asal Swedia, ABBA. Grup yang terdiri dari 2 orang cowok dan 2 orang cewek blonde ini sempat sangat ngetop ke seantero jagat pada era 70 dan 80-an. Lagu-lagu mereka yang berirama pop selama kurun waktu itu sangat digemari oleh generasi muda dunia, tak terkecuali Indonesia. Keempat anggotanya, Benny Anderson, Bjorn Ulvaeus, Anni-Frid Lyngstad, dan Agnetha Faltskog ini menamakan kelompok band mereka ABBA yang merupakan singkatan nama keempatnya (Anni, Bjorn, Benny, Agnetha). Merentang waktu sepuluh tahun (1972-1982), lagu-lagu hits mereka bercokol di anak tangga teratas radio-radio di Eropa dan Amerika Serika. Sebagaimana grup band lainnya, ABBA juga melakukan tur ke seluruh dunia, membawakan tembang-tembang legendarisnya, seperti : "Dancing Queen", "Chiquitita", "Fernando", "Waterloo", "Ring Ring", "Mamma Mia", dan masih banyak lagi.

Pada 1997, untuk pertama kalinya digelar sebuah pentas musikal bertajuk Mamma Mia! yang kemudian mengilhami Chaterine Johnson untuk menuliskan naskah bagi versi layar lebarnya yang akhirnya tayang sepuluh tahun kemudian di bawah arahan sutradara kelahiran Inggris, Phyllida Christian Lloyd, dalam bentuk komedi musikal. Film yang dibintangi antara lain oleh aktris gaek peraih Oscar, Meryl Streep ini seluruhnya memuat 22 buah lagu kelompok band tersebut.

Cerita filmnya sendiri bukan tentang grup musik ABBA dan para personelnya. Kisahnya sederhana saja, ihwal seorang perempuan paruh baya, Donna Sheridan (Meryl Streep) yang pernah memiliki tiga orang kekasih di masa lalunya. Dari hubungan percintaan tersebut, Donna hamil dan melahirkan seorang putri cantik, Sophie (Amanda Seyfried). Celakanya, Donna tidak tahu persis oleh siapa dia hamil. Dengan kata lain, Donna tidak tahu siapa dari ketiga pria yang mencintainya yang berhak menjadi ayah kandung Sophie.

Sejatinya, Donna tak pernah mempersoalkan hal tersebut hingga tiba hari pernikahan Sophie. Putrinya yang baru berusia 20 tahun itu, telah secara diam-diam mengundang ketiga pria dari masa lalu Donna : Sam Carmichael (Pierce Brosnan), Harry Bright (Collin Firtf), dan Bill Anderson (Stellan Skarsgard). Tak urung, kemunculan tiba-tiba ketiga lelaki yang kini sudah sama-sama menua itu,mengejutkan Donna dan mengusik ketenangan hidupnya yang selama ini dia jalani berdua putrinya sebagai pengelola hotel di sebuah pulau cantik di Yunani. Donna bertambah pusing saat ketiga mantan pacarnya itu sama-sama mengaku sebagai ayah kandung Sophie.

Sebagai sebuah film komedi musikal, peran musik dan lagu di film ini bukan sekadar tempelan atau ilustrasi, tetapi menjadi salah satu unsur yang menyatu dalam cerita. Seperti opera, gitu loh. Lagu-lagu menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan film. Tentu saja seluruhnya merupakan lagu-lagu dari album ABBA yang, kerennya lagi, dinyanyikan oleh para pemainnya, termasuk Meryl Streep dan Pierce Brosnan. Hampir di sepanjang pertunjukan, saya beserta penonton di kiri-kanan saya, ikut bersenandung melantunkan lagu-lagu kenangan tersebut. Begitu juga penonton di kursi belakang saya. Ah, rasanya jadi seperti sedang bernostalgia 80-an :)

Sebagaimana biasa, Meryl Streep kali inipun menunjukkan kepaiawaian aktingnya sebagai Donna Sheridan. Ia menyanyi dan menari layaknya seorang "dancing queen", ratu di sebuah pesta dansa remaja. Demikian pula sang James Bond, Pierce Brosnan. Vokalnya yang berat, cocok-cocok saja dengan lagu "S.O.S" dan "I Do I Do I Do I Do".

Film komedi bermasa putar 108 menit ini, benar-benar menghibur. Selain lagu-lagunya yang sudah akrab di telinga, juga lantaran dialog dan adegan-adegannya, meski beberapa ada juga yang dipaksakan sehingga terjerumus jadi slapstick. Namun, secara keseluruhan, Mamma Mia! menyuguhkan sebuah komedi segar yang membangkitkan kembali kenangan masa remaja mereka yang pernah mengenal dengan intim lagu-lagu ABBA itu.

Sambil menuju pintu keluar, beberapa penonton, termasuk saya, lamat-lamat masih menyenandungkan "Dancing Queen" : You are the dancing queen, young and sweet, only seventeen......"

Sabtu, 27 September 2008

Laskar Pelangi


Sutradara: Riri Riza

Produser: Mira Lesmana

Penulis Skenario: Salman Aristo

Musik: Titi & Aksan Syuman


Sinopsis :


Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Bu Muslimah dan Pak Harfan, serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab berdasarkan surat pengawas sekolah jika tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.


Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Kesepuluh murid, yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah itu, menjalin kisah yang tak terlupakan. (dari website Laskar Pelangi The Movie )


Adaptasi Cerita :


Andrea Hirata tampaknya tidak terlalu kaku mematok bahwa film ini harus sepenuhnya sama dengan novel yang ia tulis. Terbukti ia membebaskan Riri Riza dan Salman Aristo membuat skenario sesuai interpretasi mereka sendiri. Dan menurut wawancara di media, Andrea bisa menerima dan puas dengan perubahan2 dalam skenario filmnya.


Riri dan Salman cukup berani membuat banyak perubahan. Tampaknya mereka juga merasakan banyak hal yang terlalu berlebihan di Laskar Pelangi versi novel, sebagaimana yang aku rasakan dan pernah aku posting di reviewku. Laskar Pelangi versi film ini menjadi lebih logis dan membumi. Hampir semua yang berlebihan dibabat habis dan dijejakkan kembali ke bumi. Pertanyaan2 di lomba cerdas-cermat telah disesuaikan dengan tingkat pendidikan peserta. Tarian di karnaval juga lebih sederhana hanya didramatisir dengan permainan kamera. Mahar juga lebih membumi dengan lagu "Seroja"-nya, bukan "Tennese Waltz". Grup Band Laskar Pelangi dengan electone, standing bas dll sama sekali tidak diceritakan. Petualangan ke pulau Lanun juga disederhanakan. Dan yang tersisa adalah sebuah kisah yang jauh lebih logis dan masuk akal, sesuai dengan setting cerita.


Jika di novel kita akan merasa bahwa yang bercerita adalah Ikal dewasa tentang Ikal kecil, dengan seabreg istilah bahasa latin dan bahasa inggris bertaburan disana sini. Di film ini semuanya kembali ke suasana yang seharusnya, suasana Belitong yang masih agak terpencil dan suasana kehidupan anak-anak.


Sementara penambahan2 cerita baru di beberapa tempat, bisa diterima dan menyatu dengan baik dengan cerita asli. Hanya saja tokoh baru Pak Mahmud yang diperankan Tora Sudiro itu apa memang perlu ya?


Lalu satu hal lagi, karena ada banyak adegan di buku yang dimunculkan hanya sekilas tanpa terlalu banyak detail, aku agak bertanya-tanya apakah mereka yang belum membaca bukunya akan bisa menangkap semua cerita?


Akting :


Secara keseluruhan akting pemainnya lumayan bagus. Rata-rata bisa bermain secara natural dan menyatu dengan setting Belitong tahun 70-an.


Yang paling menjiwai peran di film ini menurutku adalah Ikranegara sebagai Pak Harfan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah. Dia bisa mewujudkan sosok seorang kepala sekolah sebuah SD sederhana yang idealis dan pantang menyerah, tapi tetap lembut, ramah dan sayang kepada anak-anak didiknya. Sedangkan Cut Mini sebagai Bu Mus, lumayan total aktingnya yang lengkap dengan logat melayunya yang kental itu. Meskipun pada beberapa adegan ada yang kurang lepas emosinya. Pemain dewasa lain seperti Mathias Muchus, Rieke DP, Alex Komang, Robby Tumewu, Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Jajang, juga bermain bagus tetapi karena porsinya tidak banyak ya tidak terlalu menonjol. Hanya Tora Sudiro yang terasa agak mengganggu pemunculannya disini karena tetap sebagai Tora Extravaganza yang tampak konyol.


Para pemain anak2 asli Belitong yang memerankan Laskar Pelangi, meskipun mereka baru pertama kali berakting, tetapi ternyata cukup berhasil bermain secara natural. Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) tampil cukup meyakinkan. Yang paling bagus dan menjiwai karakternya adalah Veris Yamarno yang menjadi Mahar. Dia bisa bermain lepas tanpa beban sebagai anak eksentrik pecinta seni. Salut.


Setting :


Selain dari segi cerita, film ini tampaknya bakalan banyak dipuji dari segi artistik. Pengambilan gambarnya, lokasinya, dan sudut-sudut kamera yang diambil tidak sembarangan. Sisi-sisi indah dari pulau Belitong bisa dimunculkan dengan apik dan dramatis.


Dengan setting asli di Belitong dan bahasa asli setempat, film ini tampil lebih natural dibandingkan dengan novelnya yang agak sedikit dikacaukan dengan banyaknya perbendaharaan kata2 bahasa inggris daripada bahasa setempat.


Alur Cerita :


Karena berdasarkan sebuah novel yang merupakan memoar masa lalu seorang Ikal, dan bukan sebuah cerita dengan fokus pada satu kisah utama, maka wajar saja jika ada yang merasa kalau film ini agak meloncat-loncat dan kemana-mana. Dan di beberapa bagian cerita akan terasa datar tanpa emosi, hanya sebatas bercerita tentang kehidupan tokohnya.


Film ini memang adalah kisah kehidupan, bukan sebuah cerita dengan rentetan adegan2 yang membangun konflik lalu mencapai klimaks dan selesai. Ada bagian tentang cerianya dunia anak2, ada tentang betapa sederhananya kehidupan mereka, ada tentang perjuangan agar tetap sekolah, ada sedikit bumbu kisah cinta remaja, dan ada perlombaan untuk melambungkan kembali harapan. Semuanya disatukan untuk membangun sebuah gambaran utuh tentang kehidupan tentang anak-anak miskin yang berjuang untuk tetap bisa sekolah dan menggantungkan mimpi mereka setinggi-tingginya.


Pesan Moral :


Dalam rentetan gambar yang indah film Laskar Pelangi ini menurutku berhasil menyampaikan kisah tentang perjuangan sebuah sekolah sederhana untuk anak-anak miskin agar bisa terus hidup dan mendidik generasi penerus dengan akhlak yang mulia. Segelintir guru yang bekerja keras pantang putus asa dalam keterbatasan. Beberapa orang murid miskin yang tetap bersemangat tinggi dalam belajar. Bisa menginspirasi banyak orang untuk memajukan lebih tinggi lagi dunia pendidikan terutama di daerah-daerah terpencil dan untuk anak-anak miskin.

Salut.


[ tiga setengah bintang, dibulatkan jadi empat bintang :) ]



Laskar Pelangi


Sutradara : Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Skenario: Salman Aristo
Pemain: Cut Mini, Ikranegara, Tora Sudiro, dll.
Tahun: 2008
Masa Putar: 125 menit

Memfilmkan sebuah buku yang telanjur populer tentu merupakan beban tersendiri bagi sutradara dan penulis skenarionya. Ada semacam tuntutan untuk bersetia dengan yang tertulis di buku. Sebab, jika berani menyimpang salah-salah akan menuai kecaman dan protes dari para pembaca fanatiknya.

Novel laris karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, apa mau dikata adalah karya yang dua tahun belakangan ini telah berhasil meraih perhatian publik pembaca kita. Terbukti dengan penjualannya yang konon mencapai 1 juta eksemplar. Sebuah angka langka bagi penjualan buku fiksi lokal. Sukses tersebut tampaknya akan terus berlanjut dengan pembuatan filmnya yang beredar secara serentak hari ini (25/9) di seluruh Indonesia.

Lewat kolaborasi ciamik Riri Riza (sutradara) dan Salman Aristo (penulis skenario) jadilah Laskar Pelangi sebuah tontonan yang memikat justru berkat keberanian mereka “berselingkuh” pada novelnya atas seizin Andrea Hirata yang pada sebuah kesempatan pernah berujar, bahwa ia tak akan mencampuri pembuatan filmnya, sebab novel dan film adalah dua media yang berbeda, masing-masing memiliki keunikan sendiri.

Keberanian duet ini untuk tidak bersetia kepada naskah asli novelnya, justru telah membuat film tersebut lebih manusiawi. Mereka berhasil menutupi “lubang-lubang” pada bukunya. Misalnya, dengan menghilangkan beberapa adegan “tidak logis” di bukunya atau menghadirkan tokoh lain yang tidak ada di buku : Mahmud dan Bakri.

Kemunculan karakter Pak Mahmud (Tora Sudiro) dan Bakri yang tidak ada di buku, cukup menghidupkan film. Kisah Mahmud, guru SD PN Timah dalam upayanya menjerat hati Ibu Muslimah (Cut Mini) menjadi hiburan tersendiri. Siasat yang cukup berhasil untuk mencuatkan sisi lain Ibu Muslimah.

Tokoh Bakri yang materialistis sekaligus realistis adalah antagonis kecil yang dihadap-hadapkan dengan sosok idealis Ibu Muslimah, anak didik Pak Harfan (Ikranegara), sang kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong yang sampai akhir hayatnya mengabdikan diri pada sekolah miskin yang nyaris ditutup karena ketiadaan murid itu.

Film dibuka dengan narasi Ikal dewasa (Lukman Sardi) yang tengah pulang kampung guna mewartakan kabar gembira keberhasilan dirinya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi master di Universitas Sorbonne, Prancis. Lewat narasinya, kita kemudian dilempar secara kilas balik ke masa kecil Ikal bersama kesepuluh orang temannya di SD kampung yang reyot dan mirip kandang kambing itu. Oleh Ibunda Guru mereka, Ibu Muslimah, kesebelas bocah dekil dan kumal ini (kecuali Flo yang pindahan dari SD PN Timah) diberi nama Laskar Pelangi.

Lalu adegan pertama yang menyentuh hati muncul di layar: Lintang, anak pesisir yang kelak jadi murid paling pandai, mengayuh sepeda menuju kelas barunya di Gantong. Ia menjadi murid pertama yang hadir di sekolah pada tahun ajaran baru 1974 itu. Tak lama kemudian, Ibu Muslimah tiba–juga dengan bersepeda–dan menghampiri Lintang. Terjadilah dialog sederhana dalam bahasa dan dialek Melayu yang membuat mata saya basah (Apa dialognya? Silakan nonton filmnya). Tapi mungkin juga ekspresi polos Lintang itu turut menebalkan keharuan.

Selanjutnya, film mengalir dengan sebagian besar memuat adegan murid-murid Belitong yang lugu namun penuh semangat menuntut ilmu. Dalam segala keterbatasan mereka tetap berusaha ceria. Tak lupa mata kita juga dimajakan sejenak oleh pemandangan indah sebuah pantai yang penuh bebatuan raksasa tempat untuk pertama kalinya mereka menatap pelangi.

Secara umum akting bocah-bocah itu lumayan natural. Tidak semuanya kebagian peran utama.Tiga yang menonjol adalah Ikal, Lintang, dan Mahar. Dan dari ketiganya, bintangnya adalah Mahar, si seniman yang selalu membawa radio transistor ke mana-mana dengan mengalungkannya di leher.

Akhirnya film ditutup dengan satu lagi adegan mengharukan. Paling mengharukan bagi saya, sama ketika membaca bukunya: Lintang berpamitan kepada teman-teman dan gurunya, memberitahukan bahwa untuk seterusnya ia tak akan pernah datang lagi ke sekolah itu karena ayahnya hilang ditelan ombak lautan saat pergi menjala ikan. Sebagai anak lelaki sulung di keluarganya, Lintang kini harus mengambilalih tanggungjawab menghidupi ketiga orang adik perempuannya. Ya, si murid yang lima tahun lalu menjadi murid paling pertama tiba di sekolah, kini harus menjadi murid paling pertama yang meninggalkan sekolah. Kemiskinan orang tuanya telah menutup pintu kesempatan mengecap pendidikan setinggi-tingginya seperti yang diharapkan ayahnya. Gambaran yang teramat ironis di salah satu pulau paling kaya di negeri ini.

Dan seraya diiringi lantunan vokal Giring Nidji yang menyanyikan soundtrack “Laskar Pelangi”, saya keluar gedung bioskop dengan air mata yang masih belum mengering. ***

Rabu, 20 Agustus 2008

Stardust


Sutradara: Matthew Vaughn
Skenario: Jane Goldman & Matthew Vaughn
Pemain: Claire Danes, Charlie Cox, Michelle Pfieffer, Robert De Niro, dll.
Masa putar: 127 menit
Tahun: 2007


Terus terang, saya menonton film ini dengan sedikit apriori bahwa pasti deh film fantasi nggak jauh-jauh dari pameran efek visual, dongeng, dan cerita hitam putih tentang si baik yang mengalahkan si jahat. Kalau saja tak ada proyek nonton bareng Kubugil and friends, mungkin saya tidak akan pernah tertarik menonton film ini. Saya bukan penggemar film-film fantasi. Apalagi saya juga belum membaca buku karya Neil Gaiman ini. Biasanya sih saya mendahulukan membaca bukunya sebelum menyaksikan filmnya.

Saya tahu di film ini saya akan menyaksikan pameran efek visual seperti lazim terdapat dalam film-film fantasi. Saya juga sudah mengira bahwa saya akan mendapati banyak adegan sihir dan pertarungan. Tetapi bahwa ternyata filmnya sungguh keren, itu benar-benar di luar dugaan saya.

Awalnya saya masih menontonnya setengah hati. Saya benar-benar menonton begitu saja tanpa terlebih dulu memperhatikan para pemainnya. Padahal biasanya siapa yang main itu kerap menjadi pertimbangan utama saya dalam menonton film. Jadi saya pantas terkejut saat tiba-tiba aktris gaek yang masih saja cantik dan seksi, Michelle Pfeiffer, muncul di layar sebagai penyihir yang mendamba memiliki kecantikan abadi (Lamia). Oh, barulah setelah itu saya melotot seraya menegakkan tubuh saya yang tadinya menyender malas di sofa.

Kehadiran Michelle bukan saja berhasil mencuri perhatian saya namun juga membuat saya jadi membaca deretan pemain yang tercantum di sampul DVD-nya (bajakan dong hehehe). Oh..oh...kiranya ada juga Robert De Niro (Kapten Shakespeare) dan Claire Danes (Yvaine) serta oh..Peter O'Toole (King). Maka, kini perhatian saya bukan cuma tercuri tetapi telah terebut sepenuhnya.

Saya tidak akan mengisahkan ringkasan filmnya supaya tidak mengurangi keasyikan Anda menonton nanti. Tetapi percayalah, Anda akan mendapatkan hiburan yang sebenarnya dengan menonton film ini.
Dua jempol untuk efek visual dan make up-nya yang telah sukses menyulap Michelle menjadi nenek berumur 4 abad. Soal aktingnya, ya tentu tidak perlu disangsikan lagi. Michelle memang keren.

Yang juga tak kalah keren pastilah bintang favorit saya: Robert De Niro. Ia sukses memerankan tokoh Kapten Shakespeare yang gay (Salah satu dialognya: "Ingat Nak, reputasi itu dibangun sepanjang hidupmu, tetapi hanya butuh 1 detik untuk meruntuhkannya").

Adegan paling keren adalah saat kapal perompak Kapten Shakespeare berhasil mendarat mulus di atas permukaan laut setelah mengarungi angkasa raya. Adegan tersebut terlihat demikian riil. Yah, seharusnya sih gak perlu heran secara Hollywood gitu loh. Apa sih yang ga bisa dilakukan pabrik film itu?

Ceritanya sendiri sih gak istimewa. Biasa deh layaknya dongeng fantasi dengan sisipan pesan moral tentang pentingnya menjadi orang baik. Ya saya rasa hanya tinggal dongeng-dongeng itu saja yang masih meyakini bahwa pada akhirnya kebaikan akan menang melawan kejahatan.

Sudahlah, pokoknya nggak rugi deh nonton "Stardust". Buat yang belum nonton, tontonlah. Buat yang ingin nonton, selamat menonton. Buat yang sudah nonton, sepakat kan dengan saya bahwa film ini memang keren?


oleh : Endah Sulwesi

Kamis, 24 Juli 2008

The Dark Knight


Sutradara: Christopher Nolan

Skenario: Jonathan Nolan dan Christopher Nolan

Pemain: Christian Bale, Heath Ledger, Gary Oldman, Aaron Eckhart

Masa putar: 152 menit

Tahun: 2008


Pada dasarnya saya bukan penyuka film-film aksi. Namun, untuk film-film aksi tertentu selalu saya sempatkan menontonnya, termasuk serial Batman ini. Yang menarik dari serial ini adalah karena - seperti juga serial James Bond - setiap kali selalu memunculkan pemeran baru sosok Manusia Kelelawar itu. Setiap kali berganti, saya selalu menanti akan seperti apakah Batman diperankan. Nah, kali ini dalam judul The Dark Knight, si Jagoan bernama asli Bruce Wayne itu dimainkan oleh Christian Bale.


Batman boleh dibilang adalah film superhero favorit saya. Dibanding Superman atau Spiderman, saya lebih suka nonton Batman. Apalagi kalau aktor pemerannya cowok ganteng macam Val Kilmer atau George Clooney :) *glek*. Tapi Christian Bale? Duh, saya baru mendengarnya sekarang (maaf ya buat para fansnya Mr. Bale).


Seperti kita tahu, Batman punya banyak musuh. Tiga di antaranya adalah Joker, Two Face, dan Penguin. Dalam The Dark Knight ia kudu menghadapi lawan tangguhnya: Joker (Heath Ledger), penjahat kota Gotham yang selalu berpenampilan ala badut. Sebenarnya ada juga Two Face (Aaron Eckhart), tetapi ia baru muncul belakangan dan belum menjelma perkasa.


Film bermasa putar 150 menit ini dibesut oleh sutaradara Christopher Nolan yang juga menulis naskahnya. Dan sebagaimana film-film sebelumnya, kali inipun layar ramai ditaburi aksi keren Batman dengan senjata, kostum, batmobile (mobil), serta Batpod (motor) terbaru yang serbahitam.


Terus terang, mungkin karena terlalu berharap akan menemukan jalan cerita biasa-biasa saja lazimnya film-film aksi yang cenderung hitam-putih, kali ini saya agak bingung memahami kisahnya. Meskipun di awal film cukup menggebrak dengan adegan perampokan bank oleh gerombolan Joker, tetapi beberapa saat berikutnya saya sempat terserang bosan. Ditambah lagi kenyataan sosok Batman yang rada ceking dan, ehm..kurang tampan dan kurang "dingin" agak membuat saya kecewa. Dan sungguh tumben, pemeran ceweknya tidak cukup jelita. Hehehe....


Dan bagi saya bintang di film tersebut bukanlah sang ksatria malam, tetapi justru Heath Ledger yang dengan sangat cemerlang memerankan tokoh Joker. Dengan kemampuan akting yang menawan, Ledger mampu meneror sekaligus menghibur saya (ya, saya dong, saya kan nggak tahu pendapat penonton yang lain) dalam karakter Joker yang sadis. Taruhan, ia pasti masuk nominasi Oscar dan Golden Globe untuk peran di film terakhirnya ini. Sayang ya, dia keburu mati.


Begitulah, setelah film usai, komentar pertama yang keluar dari mulut saya kepada teman nonton saya adalah : "Gue lebih suka Val Kilmer" :D

Sabtu, 07 Juni 2008

MAY (2008)

Sutradara : Viva Westi
Penulis : Dirmawan Hatta
Pemain : Jenny Chang, Yama Carlos, Jajang C. Noer, Lukman Sardi, Niniek L. Karim, Tutie Kirana, Ria Irawan
Produser : Heru Winanto
Produksi : Flix Pictures
Homepage : http://may-themovie.com/

Akhirnya ada juga film Indonesia yang berani mengambil kerusuhan Mei 1998 sebagai latar belakang kisahnya. Sebelumnya sih ada film Pocong (1) -nya Rudi Sujarwo yang mengambil setting itu, cuma sayangnya tidak lolos sensor dan tidak jadi diedarkan. Pertama sih nggak terlalu tertarik dengan film ini, karena capek lah nonton dokumentasi dari kerusuhan yang memilukan itu. Tapi ketika membaca review positif di internet yang berani memberi rating tinggi untuk film ini, kok jadinya kepengen nonton.

Kisah di Antara Kerusuhan Mei

May (Jenny Chang) tokoh utama dalam film ini adalah seorang gadis keturunan Tionghoa. Dengan setting cerita pada Mei 1998, akan langsung bisa ditebak bahwa May adalah salah seorang yang menjadi korban kebiadaban peristiwa rusuh di Jakarta. Pada saat terburuk itu May terjebak di tengah huru hara massa. Antares (Yama Carlos), pacarnya yang anak pribumi, sibuk dengan kegiatannya merekam dokumentasi sejarah dan mengabaikan telepon May yang menangis meminta tolong. May yang tak berdaya akhirnya menjadi korban kebuasan manusia gelap mata. Seorang jurnalis asing bernama Raymond yang kemudian menolongnya. Ketika kembali ke rumahnya, May mendapati rumahnya porak poranda dan Mamanya entah kemana. Semakin terpuruk lagi kehidupan May, saat kemudian ia kedapatan hamil.

Sepuluh tahun kemudian. May telah menutup luka lamanya dengan tinggal di Malaysia menjadi penyanyi. Namun malam itu, ketika May sedang menyanyi di cafe, Antares muncul kembali. Membawa penyesalannya dan setumpuk rasa bersalah. Luka May semakin terkoyak lagi ketika Raymond juga mendatanginya dengan membawa Tristan anak kandung yang ia tinggalkan.

Di plot yang berbeda, Gandang (Lukman Sardi) seorang pegawai Hotel terseret teman-teman kerjanya yang mengambil kesempatan pada saat terjadi kerusuhan. Mereka memeras para pengungsi warga keturunan yang ingin segera meninggalkan Jakarta. Orang-orang yang sedang kalut itu bersedia menyerahkan hartanya asal bisa mendapat tiket untuk eksodus ke luar negeri. Mama May (Tutie Kirana) yang masih bingung karena May belum pulang selama kerusuhan itu, tak punya pilihan ketika saudaranya memaksa menyerahkan sertifikat rumah kepada Gandang demi selembar tiket. Dari hasil penjualan rumah Mama May itu, Gandang membuka usaha sendiri dan sukses.

Sepuluh tahun kemudian, Gandang bertemu lagi dengan Mama May di sebuah kedai kopi di Malaka. Keadaan Mama May yang setengah linglung karena terus mencari-cari May, memunculkan perasaan bersalah pada diri Gandang yang merasa telah memanfaatkan kesengsaraan orang lain.

Bagus, Nggak Klise

Meskipun berlatarbelakang kerusuhan Mei 1998, film ini bukanlah film tentang kerusuhan itu. Ini adalah film drama tentang cinta dan keluarga yang konflik2nya terjadi sebagai akibat dari peristiwa Mei 98. Kejadian-kejadian brutal dari hari-hari berdarah cuma ditampilkan sebagai berita di televisi. Tidak ada reka ulang peristiwa kerusuhan tersebut yang ditampilkan secara frontal dalam film ini. Penggambarannya cukup dengan sedikit asap dan api, dan orang kalut berlari-larian yang melengkapi interaksi antar tokoh, sudah bisa menyampaikan kondisi kacau pada saat itu dari sisi yang lebih humanis. Tanpa perlu mengorek luka lama terlalu dalam.

Dari sisi penuturan film ini berani bereksperimen dengan menyampaikan cerita dalam plot maju mundur. Bukan sekedar plot maju mundur biasa, tapi dalam film ini ditampilkan beberapa kisah paralel dari sejumlah tokoh secara bergantian yang masing-masing bergerak dalam plot yang maju mundur. Kedengarannya bakal berantakan dan membikin bingung penonton, apalagi sama sekali tidak disampaikan atau dituliskan keterangan tempat dan waktu yang menuntun penonton. Tapi berkat kepiawaian sutradara yang dibantu oleh penata rias, setting, dan busana, penonton akan dengan mudah menebak lokasi dan kronologi waktu dari adegan yang sedang ditampilkan. Permainan plot yang dengan cerdas menggiring penonton untuk memahami cerita dengan lebih baik kayaknya adalah kekuatan utama film ini, walaupun ada beberapa segmen yang terlalu bertele-tele.

Pengambilan gambarnya tidak monoton ala sinetron, bukan cuma asal bagus tapi juga sanggup bercerita melengkapi dialog tokoh2nya. Setting klenteng dan pantainya cantik, juga setting rumah di dekat Prambanan. Sayang tata suaranya kurang sempurna. Lagu yang dibawakan May di cafe juga kurang pas dengan mood cerita.

Permainan akting Jenny Chang sebagai May lumayan bagus meski belum cukup prima. Akting Jenny paling kedodoran saat ia harus berdialog dalam bahasa Inggris. Sementara Yama Carlos tidak bisa mengeksplore terlalu jauh karena memang karakter Ares adalah orang yang datar menyimpan emosi. Malah aktris gaek Tutie Kirana yang berhasil membuktikan kepiawaiannya berakting sebagai wanita tua yang tertekan. Lukman Sardi sebagai Gandang terlalu datar dengan ekspresi yang nyaris sama sepanjang cerita. Ria Irawan yang menjadi istri Gandang sempat memberikan penyegaran sebagai istri cerewet, meski di beberapa bagian agak overacting :p

Cerita dari film ini sendiri cukup menyentuh, beberapa adegannya akan sanggup menghanyutkan emosi penonton. Alur cerita utama antara May dan Ares terasa agak bertele-tele, walaupun nggak sampai jatuh jadi cerita ala sinetron. Yang lebih kuat malah alur cerita dari kisah Gandang - Mama May, lebih menyentuh dari sisi humanis.

Perkembangan cerita dalam film ini seringkali tidak disampaikan secara langsung dalam dialog atau narasi, kadang cukup dengan sedikit adegan tanpa dialog saja telah bisa bercerita banyak. Penonton dianggap cukup cerdas untuk mampu menangkap itu tanpa harus didikte oleh narasi. Cuman menurutku untuk endingnya, cara penyampaiannya kurang keren, mestinya dibiarkan saja menggantung tapi dengan sedikit petunjuk ke arah ending.

Kesimpulannya. Untuk kelas film Indonesia, film ini kereeeen. Permainan plotnya cerdas. Kisahnya menyentuh tapi tidak cengeng. Sayang kurang promosi, jadi yang nonton dikit :(

Jumat, 30 Mei 2008

Out of The Ashes


Sutradara: Joseph Sargent
Skenario: Anne Meredith
Pemain: Christine Lahti, Bruce Davison, Beau Bridges,Jonathan Cake
Tahun: 2003


Lagi, sebuah film tentang kekejaman Nazi Jerman telah dibuat. Kali ini dibuat untuk sebuah film TV yang ceritanya berdasarkan kisah nyata seorang korban yang berhasil selamat dari kamar gas di Kamp Konsentrasi Auschwitz (Saya selalu merinding seram setiap mendengar kata ini disebutkan. Terbayanglah ribuan manusia yang kebetulan terlahir sebagai Yahudi mati dengan cara amat mengenaskan). Ia adalah Gisella Perl (Christine Lahti), seorang dokter Yahudi berkebangsaan Hungaria.

Usai Perang Dunia II, Gisella atau Giska datang ke Amerika dan mencoba untuk kembali bekerja sebagai dokter ahli kandungan di negara tersebut. Ia mendapat kendala dengan riwayat hidupnya. Pihak rumah sakit yang hendak mempekerjakannya memiliki catatan hitam tentang sejarah hidupnya semasa pendudukan Nazi di Jerman. Ia dimintai keterangan sampai sejauh mana kebenaran catatan tersebut yang menyatakan bahwa ia bisa lolos dari kematian sebab selama dalam tahanan di Auschwitz itu ia berkolaborasi dengan pihak Nazi. Sembari menekan segala rasa pahit dan pedihnya akan kenangan buruk yang tak akan pernah sanggup dilupakannya itu, ia pun berkisah (tersuguh dalam adegan-adegan kilas balik).

Menjadi seorang tahanan berarti menjadi manusia yang tidak lagi memiliki kemerdekaan. Bahkan berarti selalu dalam ancaman kematian. Apalagi sebagai tahanan tentara Nazi yang sudah demikian terkenal bengisnya. Tulisan-tulisan mengenai kekejaman Hitler terhadap kaum Yahudi telah banyak diterbitkan. Misalnya saja Buku Harian Anne Frank. Atau juga film-filmnya (Schindler's List, Life is Beautiful dll). Barangkali satu-satunya yang terpikir oleh para Yahudi yang malang itu adalah bagaimana caranya agar dapat tetap hidup. Begitulah yang dilakukan Giska. Ia tidak bisa menyangkal bahwa ia memang telah 'bekerja sama' dengan pihak Nazi selama di Auschwitz itu. Namun, ia melakukan semua kesepakatan itu semata-mata demi mempertahankan hidupnya. Ia bersedia membuat deal tersebut dengan harapan ia dan keluarganya dapat keluar dengan selamat dari neraka Auschwitz.

"You know about some of the things I did there, for the pregnant women. But yes, I did sent unknowingly many women to their deaths within the day of my arrival. And yes, some of the things I did there, some of the procedures I was forced to do there…they were not honorable. So you are right, I have blood on my hands and believe me I can see it as clearly as you can see this tattoo here on my arm. Both of them will forever identify me as having to be a doctor in Auschwitz, not only to the world, but to myself. And I know this is very difficult for you to understand gentlemen not having been there, but it is the truth. I only did what I had to do to survive"

Giska tak punya banyak pilihan. Dokter Mengele (Jonathan Cake) memerintahkannya untuk melakukan aborsi terhadap para tahanan yang kedapatan hamil dan lalu bayinya itu dibakar hidup-hidup di krematorium atau dimasukkan ke dalam kamar gas. Sebuah aksi pembersihan etnis yang paling biadab yang pernah terjadi di dunia. Dengan tangannya, Giska berhasil menyelamatkan hidup 1000 orang lebih perempuan Yahudi di Auschwitz. Para perempuan itu lebih memilih Giska yang melakukannya daripada dr. Mengele yang berdarah dingin itu karena bisa berarti nyawa merekapun akan melayang.

Katanya, sejarah selalu berulang. Tapi sumpah deh, saya tidak pernah berharap satu kalipun segala sejarah kekejaman yang pernah terjadi di atas bumi ini berulang kembali. Amit-amit...

Jumat, 23 Mei 2008

Across The Universe (2007)


Film musikal berlatar tahun 60-an ini menceritakan tentang Jude (Jim Sturgess), seorang pemuda dari Liverpool yang merantau ke Amerika buat mencari ayahnya. Di Amerika, dia berteman dengan Max Carrigan (Joe Anderson) seorang mahasiswa Ivy League kaya yang sedang memberontak dari keluarganya. Max punya seorang adik bernama Lucy Carrigan (Evan Rachel Wood) yang baru saja patah hati karena pacarnya meninggal di Vietnam. Seperti yang bisa diduga, tentu saja Jude dan Lucy saling naksir.

Mengikuti Max yang melepaskan diri dari keluarga kayanya, Jude menyewa kamar di sebuah rumah kontrakan yang diinduksemangi oleh Sadie (Dana Fuchs), seorang penyanyi. Di situ, kehidupan hippie mereka pun dimulai, terlebih setelah Lucy ikut-ikutan tinggal di sana juga. Setiap hari mereka bersenang-senang seolah tanpa beban, hingga akhirnya Max mendapat panggilan untuk bertugas ke Vietnam. Dari situ, hubungan Jude dan Lucy pun mulai goyah. Setelah sebuah demonstrasi yang berakhir dengan keributan, Jude malah dideportasi ke Inggris. Eh, tapi ini bukan endingnya kok. Yang jelas happy ending, lah.

Yah, film ini memang sangat menggambarkan kehidupan hippie, sih … 60-an banget gitu. Secara keseluruhan, film ini terhitung bagus. Ceritanya sih memang dangkal dan tertebak banget. Tapi yang bikin lebih adalah karena ini film musikal. Menyenangkan juga melihat koreografinya, lalu lagu-lagunya. Ah, lagu-lagu The Beatles yang dinyanyikan ulang itu biasanya memang jadi keren. Jadi kepikiran, apakah sebenarnya film ini dibuat berdasarkan lagunya, atau lagunya dipasin sama filmnya ya? Mungkin yang pertama ya, karena ada tokoh Prudence (T.V. Carpio) tuh, yang kayaknya nggak ada fungsinya. Aku curiga mungkin dia dimunculkan cuma biar ada lagu Dear Prudence, hihihi ….

Sebenarnya aku berharap lebih banyak dari film ini. Kupikir film ini bakal spektakuler, gitu. Eh, ternyata nggak sehebat itu, sih. Atau karena aku sudah mendengar lagu-lagunya duluan ya, jadi nggak terpana lagi. But I still love the songs. Dan sinematografinya memang bagus. Layak ditonton, kok.

Senin, 12 Mei 2008

The Darjeeling Limited (2007)


Film ini bercerita tentang tiga bersaudara Whitman, yaitu Francis (Owen Wilson), Peter (Adrien Brody), dan Jack (Jason Schwartzman). Mereka berasal dari keluarga kaya raya dan sudah setahun tidak berhubungan satu sama lain. Untuk merekatkan kembali hubungan persaudaraan mereka, si sulung Francis berinisiatif menyeret kedua adiknya untuk melakukan perjalanan mengelilingi India dengan kereta api Darjeeling Limited. Francis sudah menyiapkan jadwal ketat yang harus mereka ikuti, dan dia bahkan punya agenda tersembunyi yang tidak diketahui kedua adiknya.

Di sepanjang perjalanan itu, mereka mampir ke tempat-tempat religius dan “beribadah” di sana. Tapi, layaknya turis di tempat asing, mereka juga melakukan hal-hal norak seperti berbelanja yang tidak-tidak (misalnya semprotan merica dan ular kobra). Hubungan mereka bertiga sendiri tidak bisa dibilang akrab. Di mana-mana, ketiganya selalu bertengkar. Selain itu, mereka juga saling menyembunyikan informasi (tapi selalu ketahuan). Puncaknya adalah saat mereka bertengkar hebat di kereta dan akhirnya ditendang keluar oleh si masinis. Tapi, apakah perjalanan mereka berakhir di situ? Ternyata tidak. Justru perjalanan sesungguhnya dimulai setelah itu.

I like-like-like this movie. Duh, film ini tuh ya … kocaaaaakk banget. Dialog-dialognya itu sungguh keren. Well-written. Gambarnya juga bagus. Rasanya tiap adegan tuh kalau di-capture akan menjadi gambar yang keren. Aku suka banget deh. Lagian, sepertinya aku memang selalu suka dengan cerita-cerita tentang dysfunctional family begini.

Owen Wilson bermain cemerlang di sini, sebagai kakak sulung yang selalu mengatur adiknya. Terus, Adrien Brody tuh tampangnya kocak banget sih. Apalagi dengan kacamata hitam yang sedikit diangkat, hihihi …. Beda banget dengan perannya di The Pianist. Jason Schwartzman yang berperan sebagai si bungsu juga oke. Padahal kalau dilihat-lihat, ketiga saudara ini kok nggak ada mirip-miripnya sama sekali, ya.

Di DVD yang aku tonton, disisipkan juga film pendek yang berjudul Hotel Chevalier. Film ini menceritakan tentang Jack Whitman dan mantan pacarnya (Natalie Portman) yang bertemu di kamar Hotel Chevalier. Beberapa adegan dalam The Darjeeling Limited memang mengacu pada adegan di hotel ini. Film pendek ini juga nggak kalah ngaconya dari film utamanya. Ceritanya adegannya mau dibikin dramatis gitu, tapi duuuhh … nonton saja sendiri deh, hihihi ….

Rabu, 30 April 2008

ELEPHANT


Sutradara : Gus Van Sant
Skenario: Gus Van Sant
Pemain: Alex Frost, Eric Deulen, John Robinson dll.
Tahun: 2003
Masa putar: 80 menit


Siapa menyangka dua orang siswa SMA bisa tiba-tiba menjadi teroris di sekolahnya, menyerang dan menembaki teman-teman mereka sendiri? Eric (Eric Deulen) dan Alex (Alex Frost) adalah dua orang siswa sebuah SMA di Amerika Serikat, berwajah bayi dengan mata tanpa dosa. Mereka sama seperti remaja lainnya di dunia : memakai jins, bermain bola dan pacaran. Namun, hari itu ada sesuatu yang berbeda yang telah mereka lakukan : menjadi teroris di sekolah mereka sendiri. Siang yang cerah di Portland, Oregon, itupun berubah jadi hari pembantaian.


Diceritakan Eric adalah murid yang pendiam. Tipe murid kurang gaul, karenanya tidak punya banyak kawan. Seringkali ia bahkan menjadi bahan olok-olok teman-teman sekelasnya. Penyuka Beethoven (dia memainkan Fur Elise dengan pianonya) itu diam-diam menyimpan dendam dan sakit hati yang dilampiaskan dengan aksi terorisme. Menggunakan senjata mesin otomatis yang dipesannya lewat layanan internet, dia menghabisi nyawa para guru dan murid di SMA itu.


Gus Van Sant --adalah juga sutradara film-film To Die For, Good Will Hunting, Finding Forrester--menyuguhkan sebuah drama realis lewat Elephant ini. Pada awal-awal film, kita masih dibuat bertanya-tanya hendak kemana arah cerita dibawa. Konflik apakah yang akan terjadi selanjutnya? Irama film yang terkesan datar di awal tadi, perlahan-lahan meningkat dan menjadi agak mencekam saat adegan penembakan oleh Eric dan Alex. Kamera banyak mengambil gambar dari belakang/punggung tokoh-tokohnya dan bergerak terus mengikuti tokoh yang sedang mendapat giliran diceritakan. Kita seperti menyaksikan sebuah tayangan reality show. Gaya penceritaan kilas balik dalam film ini mengingatkan kita pada film Pulp Fiction atau Amores Perros. Atau yang paling mutakhir : 21 Grams. Seperti puzzle, potongan-potongan adegan itu menyatu di akhir menjadi sebuah cerita yang utuh.


Selain Eric dan Alex yang homoseksual, diceritakan pula karakter-karakter lain yang ikut meramaikan kisah ini. Ada John (JohnRobinson) yang harus hidup dengan seorang ayah pemabuk, ada Michelle (Kristen Hicks), murid wanita yang tidak mau memakai celana pendek pada setiap pelajaran olahraga, dan Elias (Elias McConnell) siswa yang hobi fotografi.


Lewat film ini, barangkali Van Sant (menulis juga skenario film ini) ingin memotret sebuah dunia remaja di salah satu sudut dunia, tepatnya di Portland, Oregon, Amerika Serikat, dengan segala persoalannya. Masa remaja selain masa terindah adalah juga suatu masa yang sulit. Bukan lagi kanak-kanak dan belum diakui sebagai manusia dewasa. Kita semua pernah mengalaminya. Tidak mustahil ada banyak Eric dan Alex di bumi ini.


Elephant mendapat penghargaan Palme d'Or pada Festifal Film Cannes tahun 2003 dan sutradara terbaik untuk Van Sant di Canadian Film Festival pada tahun yang sama.


Tapi, ngomong-ngomong, lalu apa hubungannya ya dengan gajah? *bingung*


Selasa, 22 April 2008

Ayat-Ayat Cinta

kontributor: kotho ben pundjabi (dari bioskop panas kelas ekonomi di sebelah)

“Ya, kita nonton Ayat-ayat Cinta, ya?” rengek pacarku jauh sebelum film ini diputar. Pacarku, sebagaimana pacar-pacar siapa pun di hampir seluruh negeri ini tahu bahwa Ayat-Ayat Cinta sedang dalam proses penggarapan ke film waktu itu. Wong di kampungku, nun jauh di pesisir pantai Sumatera Barat yang aksesnya terbatas itu saja tahu bahwa ada Novel dasyat yang berjudul Ayat-ayat Cinta. Yang ini aku yakin, mereka tahunya dari acara infotaiment yang digemari nyaris sebagian besar mabnusia Indonesia.

Tak lama berselang, (cieeh.. bahasanya) film itu diputar juga. Aku sudah baca resensinya di Kompas minggu yang ditulis Susi Ivvanti (kira-kira begitulah namanya) yang kemudian aku tahu bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan besar dalam menceritakan alur film tersebut. Susi, dalam resensinya bercerita bahwa Nurul menuduh Fahri memperkosanya, yang baik dalam novel dan filmnya tokoh itu bernama Noura. Adakah karena kedekatan nama tersebut membuat Susi lupa dan media sebesar Kompas luput mengeditnya. Atau jangan-jangan Mbak Susinya belum tahu itu novelnya. Kha..kha..kha..

Demikianlah, sebagaimana yang ditakdirkan aku menantang pacarku. “Gimana, hari ini diputar perdana loh, mau nonton gak.” Kataku pada sang pacar. Sumpah, di kantongku hanya ada uang tujuh ribuan saja yang hanya bisa untuk sekedar makan malam saja.

“Gak lah. Pasti antri. Lagi pula mahal,” tolaknya.

“Lalu?”

“Kita tunggu saja CD-nya. Paling bentar lagi yang bajakan pasti ada.”

Dan batallah kami ke Ambarukmo Plaza Jogja dan jadilah aku makan malam yang lebih enak sendirian.

Ramalannya sepenuhnya benar. Beberapa hari kemudian, ketika filmnya masih diputar di bioskop, kawan tetangga kamarku datang menenteng dua keping CD.

“Ayat-ayat cinta,” teriaknya. “Cuma boleh minjam sehari saja.”

Apa lacur. Banyak yang antri. Pelem baru lagi. Kami sepakat akan menontonnya sehabis magrib.

Meski bajakan, saudara; dengan mutu gambar dan suara yang lumayan parah, toh aku bisa juga menikmati keseluruhan ceritanya. Nanti, pada bagian akhir CD kedua, film ini tak sepenuhnya selesai. Ending yang aku ketahui hanyalah ketika Aisya kembali ke rumah dan Maria tersenyum di balik pintu. Disk ketiganya aku dapatkan juga di sebuah warnet, ketika aku hendak mengoleksi film-film porno sebelum pemerintah turun tangan mengenyahkan barang-barang tersebut. Selebihnya yang bersisa hanya gerutu dan kekesalan.

Betapa tidak, lihatlah Fahri, tokoh kita yang satu ini. Betapa pasifnya dia sebagai bintang utama. Nyaris dalam keseluruhan film ia tampak diam dan menunduk. Karakter muslim pun tidak sempurna melekat pada dirinya. Tak ada janggut, tak ada pakaian dan sikap yang mencerminkan dia anak al-Azhar kecuali pada bagian di mana dia tak mau bersalaman dengan perempuan lalu dia tampak khusuk di tempat yang remang, pengajian. Ha..., Ndika Mahrendra, temanku penyair itu saja lebih terlihat lebih Islami ketimbang dia. Atau mungkin lebih pas An Ismanto yang berperan menjadi Fahri.

Lalu Maria sebagai gadis Kairo dan Aisya sebagai gadis Jerman tak terlihat karakternya sekali. Belum lagi bahasa yang mereka gunakan, bahasa Indobnesia yang Jakarta banget. Kesan bahasa ini sepenuhnya amat mengganggu. Kita seolah menonton film yang sedang di dubbing. Tiap awal adegan, kita ditawarkan pada bahasa Arab sebagai pengantar, seolah memaksa kita untuk menyadari bahwa “Ini di Mesir lo, ihwan-ahwat!” Saya seperti melihat film yang ditayangkan Indosiar tentang legenda-legenda itu. Kenapa tidak sekalian bahasa Arab saja? Kenapa hanya bahasa-bahasa pengantar saja menggunakan bahasa Arab? Kalo yang itu, tak usah jauh-jauh ke Mesir segala. Di sini, main saja ke markas organisasi-organisasi Islam, bahasa semacam itu bukan barang baru lagi, kok. Aku tak habis pikir juga, bagaimana para pemain yang diwawancarai itu bilang, itu karena kursus bahasa Arab lah dan semacamnya. Gus Muh saja lancer kok kalau cuma bicara “ikhwan-akhwat-afwan-ukhti-dsb” semacam itu.

Aisyah, kita kembali pada cewek cantik ini. Dalam resensi di situs resminya saya dapatkan keterangan semacam ini, “Aisha, 25 th (Rianti Cartwright). Mahasiswi asing keturunan Jerman dan Turki, cerdas, cantik dan kaya raya. Latar belakang keluarganya yang berliku mempertemukan dirinya dengan Fahri.” Indo Jerman Turki? Terwakilikah karakter ini menurut saudara? Lalu soal kaya rayanya itu lo. Saya tidak menemukan hubungan kekayaannya dengan jalinan cerita yang dibangun. Apakah kekayaan itu ingin ditampilkan ketika Fahri dalam penjara dan dia berusaha menyelamatkan sang suami dan menghabiskan banyak uang? Di sini pun, siapa pun akan melakukan hal yang sama, saya rasa. Meskipun harus menggadai sawah dan tanah mereka.

Kesan Islami pada perempuan ini hanya muncul ketika dia masih gadis saja. Begitu menikah, dia terlihat menjengkelkan dan pongah. Sikapnya pada sang suami juga tak terlampau mewakili bahwa dia istri yang baik dan santun. Dialog-dialog dia dengan fahri di amna dia mengganti komputer tua lakinya dengan laptop misalnya atau ketika mereka bersoal akan tinggal di mana, malah terlihat sikap sombong dan arogan.

Dan kematian Maria. Betapa terburu-buru digarap. Ketika dia menikah dengan Fahri, dalam waktu sekejap dia sembuh dari sakit yang parah. Tapi begitu menceritakan kematiannya, dalam waktus sekejab dia meninggal dunia. Wah... takdir bung, takdir, teriak kawan jengkel.

Lalu mengenai gadis Nurul binti Ja'far Abdur Razaq yang berasal dari Jawa Timur ini, kehadirannya di film sama sekali tidak mempengaruhi jalan cerita. Dia hadir atau tidak saya pikir sama saja. Justru kehadiran tokoh ini membuat saya harus berkomentar buruk lagi. Betapa tidak, tak terlihat keakrabannya dengan Fahri, tiba-tiba saja, entah karena apa dia kagum, jatuh cinta, dan hendak menikahinya. Dan tiba-tiba saja ngambek dan marah. Kenapa dia? Ada bagian yang dipotong lembaga sensor ya?

Sudahlah, sudah begitu banyak resensi mengenai ini saya kira. Kritik dan pujian tentu saja. Benar itu semua. Saya juga ingin berkata, mana Mesirnya? Apa yang khas selain kacamata hitam dan keranjang Maria? Tokoh-tokoh yang berperan jadi orang Mesir pun sepertinya dimainkan oleh orang-orang India Pasar Baru. Soal bahasa dan seting yang terburu-buru digarap dan melupakan detail soal Mesir dan sebagainya semakin memperparah cerita ini. Atau tengoklah ketika Fahri meraung-raung di penjara dan seorang kawan terpidana lainnya menghajarnya dengan nasehat. Mahasiswa S2 itu pun tersadarkan oleh napi yang tak diketahui indentitasnya itu, apakah dia seorang rektor atau kyai sebelumnya?

“Tak bisa. Ndak layak itu. Tidak masuk akal,” giliran pacar saya yang marah melihat Fahri yang tiba-tiba tersadarkan. “Semula dia hero, membela perempuan Barat di bis dengan firman Tuhan, kok tiba-tiba justru disadarkan oleh seorang narapidana yang tak jelas semacam itu?” kembali dia meradang.

“Kebenaran datangnya kan dari mana saja. Kita juga bisa belajar dari orang-orang semacam itu. Orang-orang yang tak diduga dan luput dari amatan kita,” saya mencoba membela.

“Tapi merusak logika filmnya tau,” pacar saya mengaum lebih keras dan mulai tak terkendali. Kalau sudah begini saya lebih baik diam saja.

Tapi begitulah. Sebuah film dan Indonesia pula, tentu tak habis dibicarakan segala kekurangannya. Jika boleh memuji saya suka dengan ilustrasi musiknya, tetapi tidak dengan cerita dan setingnya. Itu saja.

Lalu suatu kali teman perempuan di kampus saya yang diakuinya sendiri jarang nonton film mengatakan kepada saya, “Pelem yang bagus itu ya kayak Ayat-ayat Cinta, Tauk!”

“O....” Dan saya pun melongo. Saya masih belum bisa menjawab ini tentang benar atau tidaknya. Permisi!

AYAT-AYAT CINTA (2008)
Pemain: Fedy Nuril, Rianti Cartwright, Sazkia Mecca, Melanie Putri, Carrisa Putri, Surya Saputra, Oka Antara
Penulis Naskah: Salman Aristo & Ginatri S. Noer dari Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy
Produksi: MD Pictures
Sutradara: Hanung Bramantyo