Kamis, 12 November 2009

Emak Ingin Naik Haji


Judul film: Emak Ingin Naik Haji
Sutradara: Aditya Gumay
Skenario: Aditya Gumay (Adaptasi cerpen karya Asma Nadia)
Pemain: Aty Kanser, Reza Rahardian, Didi Petet, Ninik L Karim, dll
Produksi: Mizan Production
Tahun: 2009

Menandai tibanya “musim haji” tahun ini, Mizan Production melepas sebuah film bernuansa agama berjudul Emak Ingin Naik Haji. Dibesut oleh Aditya Gumay, film yang diadaptasi dari cerpen karya Asma Nadia ini, menampilkan sebuah drama religi yang mengharukan.

Adalah seorang ibu yang akrab disapa Emak (Aty Kanser) oleh anak-anak dan para tetangganya, telah lama memendam hasrat ingin beribadah haji. Namun, bagi orang miskin seperti dirinya–untuk nafkah sehari-hari, Emak yang sudah lama menjanda itu berjualan kue apem–barangkali pergi ke Tanah Suci hanyalah sebuah impian di siang bolong. Ongkos naik haji (ONH) yang setiap tahun selalu naik itu–mungkin sekarang sekitar 30-40 juta–sangat jauh untuk dapat dijangkau oleh orang-orang kecil seperti Emak. Kalaupun akhirnya mampu, mereka kudu menabung dulu bertahun-tahun lamanya.

Demikianlah yang dialami Emak. Demi niat sucinya itu, Emak dengan tekun mengumpulkan setiap rupiah yang diperolehnya untuk tabungan ONH. Tetapi, baru saja terkumpul lima juta rupiah dari hasil menabung bertahun-tahun, cucunya mendadak sakit dan harus segera dioperasi. Emak yang selalu bersikap baik ini, dengan ikhlas merelakan tabungannya untuk kesembuhan sang cucu.

Hanya beberapa langkah dari pondoknya yang tua dan suram, tinggallah Haji Sa’un (Didi Petet) beserta istri (Ninik L Karim) dan keluarganya. Haji Sa’un adalah orang terkaya di kampung nelayan itu. Sebagai saudagar kapal dan besi tua, Haji Sa’un dan istrinya telah berkali-kali naik haji dan umroh. Baginya, ONH yang 40 jutaan itu tidak berarti apa-apa. Malah tahun ini, mereka sekeluarga berencana umroh bersama rombongan artis sinetron.

Cerita di atas, jika kita jeli, sebenarnya merupakan potret kehidupan nyata masyarakat kita. Sebuah kondisi yang memiriskan hati ketika seorang yang kaya raya bisa dengan gampangnya (seperti ke toilet saja) bolak-balik naik haji, sedangkan orang-orang kurang mampu sulit sungguh mewujudkan niat mulia tersebut. Semoga dengan tayangan tersebut, para haji yang sudah berulang kali ke Tanah Suci, bisa terketuk hati mereka untuk memberikan kesempatan berhaji kepada yang belum pernah. Toh, kewajiban berhaji itu hanya satu kali seumur hidup. Mudah-mudahan, pahalanya akan sama besar.

Seting cerita film ini di sebuah kawasan permukiman nelayan di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara yang mayoritas warganya adalah orang-orang Betawi yang sangat mengagungkan naik haji. Bagi masyarakat Betawi, sampai hari ini masih banyak yang beranggapan naik haji jauh lebih penting ketimbang sekolah tinggi. Hal ini pernah saya terjadi pada tetangga saya yang lebih mendahulukan pergi haji ketimbang membiayai kuliah anak perempuannya.


Peran orang (Betawi) miskin dimainkan dengan sangat baik oleh Aty Kanser. Aktingnya sangat natural. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta dialog-dialog yang diucapkannya, pas banget. Sebagai orang miskin–peran yang nyaris menjadi spesialisnya ini–Aty tampil begitu anggun dan terhormat. Dia tak pernah mengeluh atau menggerutui nasib malangnya. Di tengah-tengah kesulitannya, ia masih sanggup membantu tetangganya yang juga kesusahan. Sesungguhnya, dengan segala kebaikan budinya ini, Emak sudah jadi haji. Kemuliaan hatinya tercermin begitu saja dari sikap dan perbuatannya. Dia tidak menangis ketika menghadapi kenyataan impiannya untuk naik haji pupus. Malah jadinya saya yang mengucurkan air mata dan sibuk mencari-cari tisu. Hiks. Empat jempol dan empat bintang untuk Aty Kanser.

Didi Petet tak kalah keren berperan sebagai Haji Sa’un, orang Jawa yang menikah dengan perempuan Betawi dan hidup di tengah-tengah masyarakat Betawi. Yang agak kedodoran justru Ninik L Karim (ah, tumben banget!). Aktingnya kurang konsisiten. Di awal, ia cukup bagus memerankan orang Betawi dengan dialek khasnya. Tetapi, pada beberapa scene mendekati akhir film, malah keluar logat Jawanya yang kental itu.

Juga untuk casting Reza Rahardian yang bermain sebagai Zein, putra bungsu Emak yang lebih senang melukis ketimbang menjala ikan di laut, terasa kurang pas, terutama secara fisikli. Reza kelewat ganteng sebagai pemuda miskin (bukan berarti orang miskin nggak boleh ganteng, loh!). Kulit putihnya tampak kurang cocok sebagai orang yang berumah di pesisir, meskipun memang aktivitasnya sebagai pelukis lebih banyak dilakukan di dalam rumah, terlindung dari panggangan sinar matahari.

Oya, masih ada satu plot lagi: Pak Joko yang juga ingin naik haji. Berbeda dengan Emak dan Haji Sa’un, motivasi Pak Joko meraih gelar haji adalah untuk mendukung upaya pencalonan dirinya sebagai walikota. Di akhir kisah, ketiga plot ini bertemu.

Secara keseluruhan, film ini layak dinikmati. Selaku film religi, Emak Ingin Naik Haji, berhasil menyampaikan pesan moralnya tanpa menggurui. Penonton dibuat tersentuh oleh kisah dan karakter Emak sebagai tokoh utamanya. Penyutradaraannya cukup baik, kendati di beberapa bagian ada detail yang luput. Misalnya, rambut anak tetangga Emak yang miskin itu, tampak sangat sehat dan berkilau. Harusnya kan bisa dibuat lebih kusam dan kusut, layaknya anak-anak kekurangan gizi. Selebihnya, saya sangat merekomendasikan film ini, terutama untuk mereka yang ingin dan sudah berkali-kali naik haji agar, siapa tahu, bisa bercermin.*** Endah Sulwesi (November 2009).

Minggu, 28 Juni 2009

Inkheart


Judul: Inkheart
Sutradara: Iain Softley
Skenario: David Lindsay-Abaire
Pemain: Brendan Fraser, Eliza Bennet, Paul Bettany, dll.
Masa putar: 106 menit
Tahun: 2008

Kalau saja aku belum membaca novelnya, mungkin aku tidak terlalu berminat menonton filmnya. Inkheart, film yang diangkat dari buku dengan judul yang sama karya penulis cerita anak dan remaja asal Jerman, Cornelia Funke.

Sejak pertama kali membaca novelnya yang bertajuk Pangeran Pencuri (buku ini pun sudah difilmkan), aku telah terpikat pada Cornelia Funke. Maka, saat Inkheart terbit dalam bahasa Indonesia, aku pun memburunya. Cerita fantasi yang keren dan mengesankan, sebab ia berkisah tentang orang-orang yang tergila-gila pada buku: Mortimer, Meggie, dan Elinor. Mereka bertiga adalah satu keluarga. Mortimer atau Mo adalah ayah kandung Meggie; sedangkan Elinor adalah bibi dari istri Mo, Resa.

Dari ketiga tokoh tersebut, Elinor menjadi favoritku. Ia dengan segala kecintaannya kepada buku, bagiku menjadi tokoh yang sangat keren. Ia mengisi hampir seluruh ruangan di rumahnya yang besar dan luas dengan buku-buku. Sebagian besar merupakan koleksi langka yang mahal harganya. Elinor tidak menikah. Mungkin seluruh cintanya sudah dicurahkan kepada buku-buku miliknya itu, sehingga tak tersisa lagi bagi seorang pria pun. Barangkali, untuk Elinor, buku-buku itu jauh lebih setia daripada para lelaki. Hehehe…

Sayangnya, tokoh favoritku ini bukanlah karakter utama. Walaupun tokoh utamanya, Mo si Silvertongue tidak kalah menariknya, namun bagiku Elinor lebih memikat dengan segala kekeraskepalaannya dan kuitpan-kutipannya tentang buku. Nah, di film, bagian ini tidak begitu kelihatan. Padahal, salah satu yang menarik dari Inkheart (novel) adalah membaca kutipan-kutipan itu.

Tetapi baiklah, masih ada Brendan Fraser sebagai Mo yang cukup enak dipandang. Juga ada Paul Bettany yang berperan sebagai Dustfinger, salah satu karakter yang melompat ke luar karena lidah ajaib Mo.

Ya, Mo memiliki bakat istimewa yang kelak menurun kepada Maggie (Eliza Bennet), putrinya. Mereka sanggup memunculkan ke dunia nyata para tokoh (dan juga benda-benda atau apa saja) dari buku-buku yang mereka baca. Syaratnya, membacanya harus dengan suara keras, tidak dalam hati saja. Kemampuan spesial ini agaknya bukan saja menjadi anugerah tetapi juga musibah. Ia harus bertanggung jawab mengembalikan tokoh-tokoh yang keluar dari buku Inkheart kembali ke tempat asal mereka. Masalahnya, Mo tidak yakin apakah ia sanggup melakukan itu semua. Ia sudah jelas bisa mengeluarkan mereka dari dalam buku, tetapi untuk mengembalikannya, ia belum pernah mencobanya.

Masalah bertambah pelik ketika tokoh antagonisnya, Capricorn (Andy Serkis), menolak untuk kembali ke dalam buku. Capricorn lebih merasa nyaman dan kerasan di dunia Mo. Dan celakanya, tokoh jahat ini tetap menjadi penjahat seperti di dalam buku. Dunia riil tidak mengubah karakternya. Ia membuat kekacauan di Bumi.

Bagi yang telah membaca novelnya, jangan kecewa jika ada beberapa bagian di film ini yang tidak serupa dengan di buku. Sah-sah dan biasa saja sih kalau hal seperti itu terjadi. Namanya juga dua media yang berbeda, tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tetapi, jika aku harus memilih antara keduanya, aku akan menjatuhkan pilihanku pada novelnya, karena aku bisa bebas mengumbar imajinasiku tanpa dibatasi gambar-gambar ciptaan sutradara dan teknik sinematografi. Kamu punya pendapat lain?***

Sabtu, 30 Mei 2009

The Boy in the Striped Pajamas


Judul: The Boy in the Striped Pyjamas
Sutradara: Mark Herman
Skenario: Mark Herman (berdasarkan novel John Boyne)
Pemain: Asa Butterfield, Vera Farmiga, Zac Mattoon O'Brien
Masa putar: 94 menit
Tahun: 2008

Setelah dua tahun lalu aku membaca novelnya, akhirnya berkesempatan juga menyaksikan versi filmnya (terima kasih ya, Erry!). Buku yang bagus dan telah membuatku menangis tersedu-sedu. Meski filmnya juga ciamik, tetapi tidak sebegitu menyesakkan dada. Atau lantaran aku sudah tahu ceritanya, ya, sehingga tidak ada efek kejutnya lagi. Sempat menitikkan air mata juga sih pada bagian Bruno (Asa Butterfield) mengingkari persahabatannya dengan Shmuel (Jack Scanlon). Juga ketika tiba pada adegan Bruno dan Shmuel berjabat tangan setelah Bruno meminta maaf atas 'kejahatannya' itu.

Cerita The Boy in the Striped Pajamas ini sebuah kritik tajam terhadap peristiwa holocaust yang menyebabkan jutaan orang Yahudi mati di kamp-kamp konsentrasi tentara Jerman di masa pemerintahan Adolf Hitler. Novelnya konon telah terjual lebih dari 5 juta copy di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa, termasuk Indonesia. Boyne menyampaikan kritiknya tidak dengan kemarahan tetapi justru dengan sebuah kisah yang sangat menyentuh siapa pun yang membacanya. Dalam bukunya, ia tidak satu kali pun melontarkan makian terhadap Jerman atau sebaliknya pemihakan terhadap Yahudi. Ia mengambil posisi sebagai seorang manusia yang menentang pembantaian manusia terhadap manusia lain.

Tentu tidak akan adil andai membandingkan film dengan bukunya, sebab merupakan dua media yang berbeda. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi dalam hal ini filmnya cukup setia kepada bukunya. Ada sih bagian yang dihilangkan, seperti saat Hitler bertamu ke rumah keluarga Bruno. Juga penyebutan "Out-with" (Auschwitz), agaknya sudah dilenyapkan dari dialog. Entah kenapa.

Filmnya cukup apik, berhasil dengan baik menampilkan suasana Jerman dan Polandia masa Perang Dunia II. Lengkap dengan mobil, kereta api, dan kamp Auschwitz-nya (jadi ingat film Life is Beautiful. Hiks..). Tata rias dan rancangan kostum para pemainnya juga cukup mewakili, kendati akting mereka tidak terlalu istimewa. Kecuali Vera Farmiga yang lumayan menonjol sebagai ibu Bruno. Bagi Mark Herman, ini adalah film kedelapan yang dibesutnya. Sutradara asal Inggris ini juga menulis sendiri naskah film-filmnya, termasuk The Boy in the Striped Pajamas.

Tokoh utamanya seorang bocah lelaki berusia delapan tahun bernama Bruno. Ia tinggal di Berlin, Jerman, bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya, Gretel (12 tahun). Waktu itu tengah berkecamuk Perang Dunia Kedua di Eropa. Jerman di bawah komando Hitler, seperti sudah sama-sama kita ketahui, dalam perang tersebut memburu orang-orang Yahudi di seluruh Eropa. The Fuhrer, Adolf Hitler, dengan sangat arogan mengklaim bahwa ras Aria adalah ras paling unggul dan orang-orang Yahudi harus disingkirkan dari muka bumi.

Ayah Bruno (Zac Mattoon O'Brien) adalah salah seorang pejabat militer kepercayaan Hitler yang dikirim bertugas ke Auschwitz sebagai komandan di kamp konsentrasi di sana. Bruno yang polos sama sekali tidak tahu bahwa kini mereka tinggal di sebuah kawasan kamp konsentrasi, tempat ribuan orang Yahudi menemui ajal di kamar-kamar gas dan tungku-tungku pembakaran. Ia hanya tahu bahwa kini ia kesepian tanpa seorang teman pun. Tetangganya hanyalah sebuah tempat luas dengan pagar kawat mengelilinginya. Di dalam pagar itu Bruno melihat sejumlah bangunan berukuran besar serta banyak orang laki-laki, dewasa dan anak-anak seumurnya, berpiama garis-garis.

Bruno, bocah yang senang menjelajah itu, pada suatu petang akhirnya mendapatkan seorang teman sebaya yang tinggal di balik pagar tersebut: Shmuel, bocah Polandia keturunan Yahudi yang seusia dengannya. Sejak itu, secara rutin Bruno setiap petang mengunjungi sahabat barunya itu. Mereka mengobrol, saling bertukar cerita. Sesekali Bruno juga membawakan sepotong coklat atau roti yang berhasil diselundupkan dari dapur rumahnya untuk Shmuel.

Sampai pada suatu hari, Bruno harus kembali ke Berlin. Anak baik itu sedih sekali karena berarti dia harus berpisah dengan sahabat satu-satunya, Shmuel. Untuk itu, sebelum pergi ia berniat melakukan "permainan" mencari ayah Shmuel yang telah beberapa hari menghilang. Tentu ia harus masuk ke balik pagar untuk dapat menemukan ayah Shmuel.

Film yang bagus. Namun, jika aku harus memilih antara buku atau film, aku akan memilih membaca bukunya.***

Minggu, 17 Mei 2009

The Reader


Sutradara: Stephen Daldry
Skenario: David Hare (screenpaly) dan Bernhard Schlink
Pemain: Kate Winslet, Ralph Fiennes, David Kross, dll.
Masa putar: 124 menit
Tahun: 2008

Oh ya, sudah barang tentu, magnetnya adalah Kate Winslet yang tahun ini sukses menggondol piala Oscar sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik. Berikutnya adalah berita-berita dan obrolan-obrolan yang beredar ihwal adegan-adegan panas di film ini antara Hanna Schmitz (Kate Winslet) dan Michael Beng (David Kross). Meskipun aku kudu kecewa lantaran tidak kebagian adegan-adegan yang dihebohkan itu - BSF sudah menggunting-guntingnya agar tak terjerat UUAP - namun aku cukup puas dengan film The Reader ini. Film yang kemungkinan besar hanya akan diputar pada pertunjukan tengah malam ini, menampilkan akting keren Winslet sebagai mantan anggota tentara SS.

"Dijamin kamu tidak akan menyaksikan adegan 15 menit pertama yang syur itu," ujar salah seorang sahabat penggemar film ketika aku meniatkan diri hendak menonton film ini. Dan ia benar. Adegan tersebut (sepanas apa aku tidak tahu) sudah menghilang dari layar. Masih ada juga sih beberapa yang berhasil lolos, tetapi tidak cukup untuk menimbulkan "ketegangan" :D Mengapa ya bagian itu meski dilenyapkan? Toh filmnya diputar midnite dengan penonton umumnya orang-orang dewasa yang sudah sangat pantas dan cukup usia untuk menyaksikannya.

Tapi baiklah, aku masih beruntung karena BSF masih mengizinkan film itu ditayangkan.

The Reader. Pembaca. Adalah Michael Beng (Ralph Fienne), seorang pengacara Jerman yang memiliki kisah ini. Kisah tentang kenangan kepada seorang perempuan kondektur trem yang dikenalnya pada tahun 1958. Mereka pertama kali bertjumpa di tengah hujan deras yang mengguyur Berlin. Saat itu Michael sedang sakit dan Hanna Schmitz menolongnya. Waktu itu, Maichael masih seorang bocah lelaki bongsor berusia 15 tahun dan usia Hanna menjelang 40. Seperti anak dan ibunya.

Namun, agaknya selisih umur yang cukup mencolok itu tak menghalangi mereka untuk bercinta. Tiga bulan setelah pertemuan pertama itu, Hanna memerjakai Michael di apartemennya. Sejak itu, hubungan keduanya kian erat. Di sela-sela percintaan mereka yang panas, Hanna kerap meminta Michael membacakan sebuah buku. Buku sastra. Dengan senang hati, Michael menjadi seorang pembaca bagi kekasihnya itu yang selalu menyebutnya, "Nak".

Hanna kecanduan. Ia senantiasa menjadi pendengar yang baik bagi setiap cerita yang dibacakan pacar kecilnya itu. Bahkan tak jarang kisah-kisah itu melarutkan perasaannya; membuatnya menangis dan atau tertawa. Melalui buku-buku yang dibacakannya - dari Huckleberry Finn , The Odyssey, hingga Tintin - Michael telah membukakan cakrawala baru bagi Hanna. Dari sekian banyak buku, ada satu yang sangat berkesan baginya, yaitu The Lady with the Dog, karya Anton Chekov. Kelak, buku inilah yang membawa pencerahan bagi Hanna.

Sayang, hubungan asmara mereka harus berakhir. Hanna pergi entah ke mana. Michael baru menjumpainya kembali delapan tahun kemudian (1966) di sebuah pengadilan enam orang bekas anggota SS yang bertugas di kamp konsentrasi Auschwitz semasa pemerintahan diktator Hitler. Michael yang waktu itu telah menjadi siswa Heidelberg Law School, tak menyangka sama sekali bahwa ternyata salah seorang terdakwanya adalah Hanna Schmitz. Bahkan, mantan kekasihnya itu menjadi tertuduh paling berat.

Inilah bagian yang mengungkap riwayat hidup Hanna Schmitz. Bagian yang menjadi inti cerita gubahan Bernhard Schlink (terbit pertama kali dalam bahasa Jerman, Der Vorleser, pada 1995) ini. Buatku, inilah bagian paling mengharukan. Kita akhirnya tahu siapa sebenarnya perempuan yang berpenampilan dingin dan keras itu. Di sini pula kita menikmati permainan watak Kate Winslet yang keren itu. Empat bintang untuknya. Adegan seks yang heboh itu barangkali boleh di-skip dengan alasan apa pun, tetapi tidak untuk yang ini. Anda akan kehilangan arah jika melewatkannya.

Akhirnya, The Reader adalah sebuah film yang memuaskan. Gambar-gambarnya bagus, berhasil menyuguhkan suasana Jerman tempo doeloe. Misalnya, stasiun trem yang suram dan tua, kostum dan tata rias para pemainnya, suasana jalan-jalan di Berlin, mobil, sepeda, dan perabot-perabot rumah tangga. Apik. Pujian khusus untuk make up Kate Winslet yang berangsur-angsur menua. Juga untuk sajian pemandangan desa dan alam pertanian yang indah menjadi sebuah tamasya mata yang menyegarkan.

Sementara itu, peran untuk aktor tampan Ralph Fiennes tidak terlalu menantang, sehingga pria berumur 46 tahun ini tampil standar saja. Demikian pula halnya dengan David Kross. Agak kurang pas sih sebetulnya saat ia menjadi bocah 15 tahun. Ketuaan. Aktor asal Jerman ini sejatinya berumur 19 tahun. Mungkin make up-nya yang kurang sempurna, ya? Tapi bagaimanapun, ia beruntung sekali bisa bersanding dengan aktris sekaliber Kate Winslet. Beradegan panas pula :D

Secara aku masih penasaran dengan adegan-adegan panas di 15 menit pertama yang dilenyapkan itu, sepertinya aku akan menonton ulang film ini lewat DVD. Khusus demi bagian yang raib itu :P ***

Senin, 04 Mei 2009

Jamila dan sang Presiden


Sutradara: Ratna Sarumpaet
Skenario: Ratna Sarumpaet
Produksi: Satu Merah Panggung
Pemain: Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Dwi Sasono, Surya Saputra, dll
Masa putar: 87 menit
Tahun: 2009


Sejak aku melihat posternya pertama kali bulan lalu, aku sudah merencanakan akan menonton film ini. Mengapa? Tentu terutama karena magnet Christine Hakim. Sudah rindu aku menyaksikan kembali si Tjut Nyak ini berakting. Terakhir filmnya yang kutonton, kalau tidak salah ingat, adalah Daun di Atas Bantal (Garin Nugroho). Di film tersebut, aktris favoritku ini bermain cemerlang sebagai Asih.


Ya, sungguh, satu-satunya alasanku menonton film karya sutradara Ratna Sarumpaet ini adalah kerinduanku pada Christine. Habis apalagi? Bintang utamanya, Atiqah Hasiholan, baru kudengar namanya. Kalau akting ibundanya sih sudah cukup sering kusaksikan, khususnya di atas pentas Satu Merah Panggung.


Kiranya, film ini tak lepas dari kiprah Ratna di dunia teater. Naskah film ini sebelumnya pernah dipentaskan di bawah judul "Pelacur dan sang Presiden". Tak mengherankan jika kemudian yang tampil di layar lebar masih menyisakan bau-bau panggung teater. Umpamanya saja, akting Atiqah sebagai Jamila. Atau dialog-dialog yang sarat kritik dan protes, diucapkan dengan gaya main drama.


Namun, tema yang diangkat cukup memikat: perdagangan anak dan perempuan (trafficking). Sebuah persoalan besar yang harus diselesaikan oleh negeri ini.


Sentral kisahnya ada pada tokoh Jamila (Atiqah Hasiholan), seorang perempuamn berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) alias pelacur. Ia menyerahkan diri ke polisi menyusul ditemukannya jenazah Nurdin (Adjie Pangestu) di sebuah kamar hotel dengan sebuah lubang peluru di dadanya. Jamila mengaku dirinyalah yang telah menghabisi nyawa korban.


Sontak negeri ini menjadi geger sebab yang terbunuh adalah seorang menteri. Beragam reaksi timbul di masyarakat. Yang terkeras adalah dari sekelompok pemuda Islam yang berunjuk rasa meminta agar Jamila dihukum mati.


Cerita kemudian menuju kilas balik. Penonton (yang tadi hanya berjumlah 7 ekor di studio 2 Metopole pertunjukan matinee jam 12) diajak mengenal siapa Jamila sesungguhnya. Gadis cantik ini ternyata memiliki sejarah masa lalu yang kelam.


Pada usia 6 tahun (tapi aku dengarnya kok Jamila mengucapkan 2 tahun, ya?), dengan dalih kemiskinan orang tuanya, ia dijual oleh ayahnya ke seorang perempuan yang ternyata mucikari. Tetapi, bertahun-tahun kemudian ia berhasil kabur dan kembali kepada ibunya yang telah melahirkan satu anak lagi, Fatima. Oleh ibunya, Jamila disuruh pergi ke Jakarta, dititipkan pada keluarga Wardiman. Namun, bagai sudah ditakdirkan, di rumah tsersebut lagi-lagi ia mengalami pelecehan. Sekali lagi ia minggat.


Entah berapa kali gadis ini harus kabur dari satu tempat ke tempat lain. Hingga suatu kali dia terdampar di sebuah lokalisasi pelacuran dan bertemu Susi (Ria Irawan). Di tempat ini, karier PSK-nya dimulai.


Agaknya, selain sebagai pelacur, Jamila diam-diam juga mempunyai kegiatan sebagai aktivis perempuan. Kegiatan ini lebih terdorong karena kepentingan pribadinya mencari tahu tentang nasib Fatima yang kabarnya telah pula dijual.


Kembali kepada kasus utama terbunuhnya Nurdin. Jamila menolak didampingi pengacara dan tak hendak memohon grasi kepada presiden. Ia menerima hukuman itu sebagai bentuk tanggung jawabnya. Apalagi baginya hidup sudah tidak penting karena Fatima mungkin sudah mati.


Hey..hey..lalu mana kupasan untuk Christine Hakim? Oh..oh...aktris luar biasa ini berperan sebagai Ria, kepala penjara Budi Luhur, tempat Jamila ditahan. Menurutku sih, kehadiran sipir ini agak dipaksakan. Aku merasa tidak pasa saja. Oh, bukan Christine yang tidak pas memerankannya, tetapi keberadaan tokoh ini. Jika pun ia tak ada, juga tidak memengaruhi kisah. Kalau sekadar sebagai jalan untuk masuk ke masa lalu Jamila, Jamila toh bisa curhat kepada salah satu tahanan di situ, misalnya.


Tapi baiklah. Memerankan apa pun, Christine selalu oke. Juga saat menjelma Ria ini, sipir penjara yang galak dan tegas. Fisikli sudah sangat pas, ditambah akting yang natural. Jadilah ia seperti sipir sungguhan.


Satu lagi yang aktingnya enak dilihat adalah Ria Irawan yang kebagian rol sebagai Susi. Kegenitannya yang liar dan murahan, benar-benar alami. Sayang, cuma kebagian porsi sedikit. Padahal, aku suka banget menonton aksinya itu.


Jadi, begitulah. Film ini mengangkat potret suram perempuan kita yang masih sering menjadi korban perdagangan manusia (trafficking). Hulu masalah sebenarnya adalah kemiskinan, hingga orang tua pun tega menjual anak kandung mereka sendiri demi keluar dari kemelaratan. Sementara itu, pemerintah seperti macan ompong, tak berdaya menghadapi pelaku kejahatan perdagangan orang ini.


Seharusnya, film ini bisa menjadi sebuah kisah yang menyentuh. Sayang, sang sutradara lebih mengedepankan cara protes dan kritik yang penuh kemarahan untuk menyampaikan gugatannya. Kurang lembut. Bahkan, Jamila susah banget meneteskan airmatanya.


Ngomong-ngomong, kalau Manohara termasuk kasus trafficking bukan? :)

Sabtu, 11 April 2009

Lonely Hearts


Sutradara: Todd Robinson
Skenario: Todd Robinson
Pemain: John Travolta, Salma Hayek, Jared Leto, Laura Dern, dll.
Masa putar: 108 menit
Tahun: 2006

Film keren ini telat diputar di bioskop-bioskop kita.Tapi tak mengapa. Untuk film bagus seperti ini rasanya tidak ada kata terlambat untuk menyaksikannya.

Ceritanya ditulis oleh Tood Robinson yang juga bertindak selaku sutradara. Cerita yang diangkat dari kisah nyata ini mengambil seting New York tahun 1940-an tentang kasus pembunuhan yang dilakukan oleh pasangan kekasih Raymon Fernandez (Jared Leto) dan Martha Beck (Salma Hayek). Mereka membunuh beberapa orang perempuan - konon sampai 20 jiwa melayang - untuk memperoleh harta. Umumnya, korban adalah para janda kaya yang meninggalkan warisan berlimpah.

Awalnya, Ray beraksi sendiri. Bahkan, semula Martha adalah salah seorang targetnya. Modus yang dilancarkan Ray dalam setiap aksinya adalah dengan cara merayu calon korbannya, para wanita yang kesepian anggota the "Lonely Hearts Club". Misalnya, janda-janda perang. Ray lebih banyak memusatkan targetnya pada perempuan-perempuan usia separuh baya yang merasa tersanjung karena berhasil memikat hati seorang pria setampan Ray. Dengan rayuan mautnya Ray sukses menjerat para korbannya hingga suatu ketika berjumpa dengan Martha, cewek cantik jelita yang jatuh cinta setengah mati padanya. Tidak seperti korban-korban sebelumnya yang mudah sekali tertipu, Martha justru kemudian menjadi sekutunya dalam menjalankan aksi-aksi selanjutnya.

Sebelum berduet dengan Martha, Ray tak pernah membunuh para korbannya. Lelaki licik itu hanya "sekadar" membawa lari uang perempuan-perempuan malang tersebut. Tetapi bersama Martha yang mencintainya secara sangat posesif itu, korban mulai berjatuhan. Martha yang tidak mampu menekan rasa cemburunya terhadap para korban, kerap kehilangan kesabaran dan memilih jalan singkat membunuh mereka secara sadis. Bikin aku mual menontonnya. Saat adegan eksekusi pembunuhan berlangsung, aku selalu menutup mata. Tidak tahan menyaksikan kekerasan dan kekejaman yang terjadi di layar. Hoooeeeeek...! Aku jadi ingat film-film Scorcese dan Tarrantino yang sering mengumbar darah.

Salma Hayek patut mendapat acungan jempol dariku untuk perannya sebagai Martha yang psikopat, walaupun secara fisik sangat berbeda dengan Martha Beck aslinya. Dengan dingin ia menghabisi korban-korbannya. Bukan hanya wanita dewasa, tetapi juga seorang bocah. Akting Jared Leto juga lumayan. Yang tampil biasa-biasa saja justru pemaran utamanya : John Travolta yang kebagian rol sebagai detektif Elmer "Buster" Robinson. Tidak ada yang istimewa dari akting si jago dansa dalam Saturday Night Fever ini. Elmer Robinson adalah kakek dari Todd Robinson.

Kekuatan film ini sepenuhnya ada pada ketegangan yang berhasil dihadirkan dalam adegan-adegan pembunuhannya. Misteri yang membuat penasaran bukanlah pada menebak siapa pelakunya, namun pada akan dibunuh dengan cara bagaimana. Ditembakkah? Ditusuk? Dipotong-potong? Diracun? Dicekik? Gilanya, aku menikmati setiap rasa tegang yang berdenyut di jantungku. Wuuaaaah.....apa diam-diam aku juga menyimpan bakat sadistis? Atau memang Todd Robinson sudah bekerja dengan baik menciptakan kengerian-kengerian itu dalam karya debutannya yang didedikasikan untuk kakeknya ini?

Hal lain yang harus mendapat pujianku adalah desain kostumnya serta detail-detail tahun 40-an yang hadir nyaris tanpa cela, termasuk model rambut dan tata riasnya. Sejenak, dandanan Salma Hayek sebagai Martha mengingatkanku pada aktris legendaris Marylin Monroe. Aslinya, Martha Beck itu seorang wanita bertubuh gemuk yang tidak menarik. Ia memiliki riwayat masa kecil yang kelam. Saat usianya menginjak 13 tahun, ia diperkosa oleh abangnya. Setelah dewasa, Martha bekerja sebagai perawat dan menikahi Alfred Beck sebelum akhirnya bercerai.

Mengapa ya Todd Robinson tidak memakai aktris yang lebih mirip dengan tokoh aslinya? Todd Robinson tidak cukup berani untuk mengikuti jejak pendahulunya, Leonard Kastle, sutradara yang pertama mengangkat kisah pasangan pembunuh ini dalam film berjudul The Honeymoon Killers (1970). Di film tersebut Martha Beck diperankan oleh Shirley Stoler, aktris bertubuh tambun, mirip Martha Beck asli. Mungkin, Salma Hayek ngeri juga ya kalau harus menggelembungkan tubuh eloknya menjadi sebesar itu.

Tapi baiklah. Terlepas dari itu, Lonely Hearts merupakan film detektif yang cukup asyik diikuti. Pada 1951, pasangan pembunuh ini akhirnya harus menjalani hukuman mati di kursi listrik penjara Sing Sing.

Minggu, 01 Maret 2009

Vicky Cristina Barcelona


Sutradara: Woody Allen
Skenario: Woody Allen
Pemain: Scarlett Johansson, Rebecca Hall, Javier Bardem, Penelope Cruz
Masa putar: 96 menit
Tahun: 2008


Woody Allen. Nama ini adalah magnet bagi para penggemar film. Sutradara gaek kelahiran 1935 itu sudah 3 kali menyabet Oscar di sepanjang karier perfilmannya. Dua di antaranya dalam film Annie Hall (1977) yang juga dibintanginya bersama Diane Keaton. Pada usianya yang sudah uzur ini, ia kembali berkiprah di Hollywood, membesut film komedi romantis Vicky Cristina Barcelona yang telah mengantarkan Penelope Cruz memenangi Oscar 2009 untuk kategori Pemeran Pembantu Wanita Terbaik.


Bagi Penelope Cruz, ini adalah Oscar pertamanya setelah dua tahun lalu gagal (dinominasikan lewat film Volver). Berperan sebagai Maria Elena, seorang pelukis temperamental dengan jiwa yang labil, ia tampil, bukan cuma seksi, tetapi juga dengan akting yang memikat. Dialog-dialog yang diucapkannya dalam bahasa Spanyol, negeri kelahirannya, menambah seksi penampilannya. Empat bintang untuk permainannya.


Cerita film yang ditulis juga oleh Woody Allen ini ringan-ringan saja, lazimnya sebuah drama komedi romantis ala Hollywood. Kisah cinta segitiga yang berpusat pada seorang seniman bajul, Juan Antonio Gonzalo (Javier Bardem). Oya, bajul itu kata dari bahasa Jawa yang artinya anak buaya. Itu sih sebutanku untuk cowok-cowok playboy yang suka tebar-tebar pesona dan kemudian mematahkan hati banyak perempuan. Yah, buaya darat, gitu loh.


Nah, si Juan Antonio ini adalah sejenis bajul itu. Tampan, cerdas, pintar merayu. Dia baru saja bercerai dengan istrinya, Maria Elena, karena konon istrinya itu jika sedang kalap sering melakukan tindakan yang membahayakan dirinya. Pada sebuah pameran lukisan di Barcelona, ia berhasil mengajak kencan dua orang gadis Amerika yang tengah berlibur: Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson).


Berbeda dengan Cristina yang jelas-jelas menunjukkan minatnya pada Antonio, awalnya Vicky yang konservatif dan sudah memiliki tunangan itu menolak mentah-mentah ajakan sang Bajul. Ia hanya mau bercinta dengan lelaki yang menjadi kekasihnya. Baginya, tak ada itu yang namanya cinta semalam. Namun, sebagai bedebah sejati Antonio memiliki banyak cara untuk menaklukkan mangsanya. Semakin sukar justru kian bergairah.


Kisahnya sih tidak istimewa. Bukan sesuatu yang baru. Cerita disampaikan melalui narasi yang disuarakan oleh Christopher Evan Welch. Rasanya jadi seperti sedang membaca novel dengan plot yang bergulir linear. Pemandangan kota Barcelona yang cantik pada saat musim panas cukup menjadi tamasya yang memanjakan mata. Bangunan-bangunan yang artistik ditingkah suasana alam musim panas yang penuh warna-warni, benar-benar sedap dinikmati. Ilustrasi musik dengan sentuhan irama Flamenco kian menambah kental rasa Spanyol dalam film ini selain aura si jelita Penelope Cruz tentu. Cruz dengan aktingnya yang menawan tak bisa disangkal telah menjadi ruh film ini. Di tengah-tengah dua cewek blonda asal Amrik itu, Cruz dengan segala kespanyolannya jadi unik dan berbeda. Jika kamu penasaran dengan akting mantan kekasih Tom Cruise yang diganjar Oscar ini, silakan nonton. Filmnya cukup menghibur kok.***




Senin, 16 Februari 2009

Slumdog Millionaire


Sutradara: Danny Boyle
Co-Sutradara: Loveleen Tandan
Skenario: Simon Beaufoy
Pemain: Dev Patel, Anil Kapoor, Freida Pinto, dll
Masa putar: 120 menit
Tahun: 2008

Akhirnya, aku nonton juga film keren ini. Film yang mendapat 10 nominasi Oscar 2009, termasuk untuk kategori film terbaik, gelar yang berhasil digondol di ajang Golden Globe. Aku sudah lama geregetan kepingin menyaksikan film garapan sutradara kelahiran Inggris ini, Danny Boyle yang dibantu oleh Loveleen Tandan, sutradara asal India. Naskahnya dibuat berdasarkan novel Q&A karya Vikas Swarup. Terjemahan Indonesianya sudah terbit juga. Tapi aku belum baca.

Film ini memukau sejak adegan pertama hingga terakhir.Alhasil, masa putar yang panjang itu, 120 menit, sungguh tidak terasa buatku.

Ini film India. Film tentang India. Tapi tolong, jangan buru-buru membayangkan sebuah sinema India ala Bollywood yang hanya menjual mimpi-mimpi layaknya sinetron produk Punjabi. Akan lebih tepat jika kamu mengingat kembali cerita City of Joy-nya Dominique Lapierre.

Jika City of Joy memotret Calcutta, maka Slumdog Millionaire ini berseting di Mumbai, kota besar yang banyak menyimpan "borok" di tubuhnya. Setiap borok tak ada yang enak dipandang. Kalau bisa kita tutupi serapat mungkin dari penglihatan umum. Demikian pula "borok" di tubuh Mumbai, sama sekali tak sedap dilihat: orang-orang miskin yang hidup di gubuk-gubuk kardus.
Danny Boyle mengajak penonton meneropong kehidupan di daerah slum itu lewat kisah Jamal (Dev Patel), seorang "chai- wallah" (pelayan yang bertugas menyiapkan teh di kantor-kantor), berumur 18 tahun, yang baru saja kaya mendadak lantaran berhasil memenangi uang sebesar 20 juta rupee, hadiah kuis "Who Wants to be A Millionaire" di televisi. Ia menang - berhasil menjawab seluruh pertanyaan kuis - bukan karena jenius, namun karena "takdir". Jawaban-jawaban pertanyaan itu ia peroleh bukan lewat bacaan tetapi dari pengalaman-pengalaman pahit yang mewarnai nyaris di sepanjang umurnya.

Dengan cerdik, kisah Jamal dituturkan secara kilas balik melalui setiap pertanyaan yang diajukan. Misalnya ketika ia harus menjawab soal siapa bintang film India yang paling terkenal pada tahun 1973, penonton dilempar ke masa kecil Jamal, saat ia sebagai bocah menggilai-gilai Amitabh Bachchan. Selaku fans berat aktor ganteng itu, Jamal kecil rela nyemplung ke kubangan tinja demi bertemu sang idola. Adegan ini menjadi adegan paling jenaka.

Jamal dan Salim lahir sebagai muslim. Dan seperti kita tahu, di India sering sekali terjadi huru-hara antara orang-orang Hindu dan Muslim. Ibu mereka pun tewas mengenaskan dalam sebuah kerusuhan antaragama itu. Praktis, setelah itu mereka menjadi anak jalanan yang terlempar-lempar dari satu kesulitan ke kesulitan yang lain. Pada bagian ini aku teringat film Garin Nugroho, Daun di Atas Bantal, terutama adegan di atap kereta itu.

Begitu seterusnya. Setiap jawaban pertanyaan akan membawa kita kepada masa lalu Jamal yang kelam, menjadi sebuah rangkaian cerita yang apik, menyentuh, mengharukan; yang sekaligus juga menjadi pembentuk karakter tokoh-tokohnya. Tak ada adegan yang terasa sia-sia. Semuanya menjadi sebab-akibat dalam membangun satu kisah yang utuh. Tidak ada bagian yang ujug-ujug. Semuanya tercipta melalui sebuah proses yang panjang. Sungguh sebuah film yang rapi. Nyaris tak ada celah untuk dinista-nista, kecuali mungkin bagian penutupnya yang agak Hollywood setelah melewati paparan kisah yang mengaduk-aduk emosi. Walau demikian, aku sih tidak keberatan, sebab masih dalam takaran wajar.

Menyaksikan film ini rasanya seperti menyaksikan wajah Jakarta yang - seperti Mumbai - diam-diam juga banyak memiliki "borok dan bopeng". Pemandangan daerah kumuh pinggir rel, bantaran sungai, dan atau tempat pembuangan sampah, adalah gambar-gambar yang sangat akrab dan mudah kita saksikan di balik gemerlapnya Jakarta. Demikian juga halnya dengan anak-anak jalanan, pengemis, pekerja seks pinggir jalan, dapat dengan gampang kita temukan di Ibukota.

Konon, film ini sempat diprotes oleh masyarakat India yang tinggal di luar India. Mereka keberatan dengan penggambaran India di film tersebut. Entahlah, barangkali kelompok yang protes ini adalah para India yang sukses di perantauan dan merasa malu menyaksikan sisi buruk wajah negeri mereka. Namun, apa boleh buat, memang demikianlah realitanya.

Dan apa boleh buat, aku harus mengatakan, bahwa film ini sangat layak ditonton. Sayang deh kalau kamu melewatkannya.***

Jumat, 06 Februari 2009

The Curios Case of Benjamin Button


Sutradara: David Fincher

Skenario: Eric Roth

Pemain: Brad Pitt, Cate Blanchett, dll

Masa Putar: 166 menit

Tahun: 2008


Alasanku nonton film ini bukan lantaran bintang utamanya si seksi Brad Pitt, tetapi karena film ini berjaya di ajang Golden Globe dan Oscar 2008 dengan mengantungi banyak nominasi. Salah satunya untuk Brad Pitt sebagai leading actor. Ya aku sih masih percaya bahwa film-film yang dijagokan di kedua festival tersebut biasanya memang film-film yang bagus.


Layar dibuka dengan adegan Daisy Tua yang terbaring sekarat di rumah sakit. Menjelang ajalnya, ia ingin agar putrinya, Caroline (Julia Ormond) membacakan sebuah buku harian bersampul kulit yang ditulis oleh seorang pria : Benjamin Button (Brad Pitt).

Maka, cerita pun surut ke belakang, ke tahun 1918, bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia I, lahir seorang bayi lelaki buruk rupa, anak seorang pemilik pabrik kancing, Thomas Button (Jason Flemyng). Karena malu dengan kondisi fisik bayinya, Thomas kemudian berniat melenyapkan orok tersebut dengan membuangnya di sungai. Namun, beruntung tidak jadi sebab keburu ketahuan polisi. Tetapi, setelah berhasil lepas dari kejaran opsir itu, Thomas lalu meninggalkan putranya di anak tangga depan pintu sebuah rumah jompo.


Sekali lagi keberuntungan terjadi. Bayi malang itu diselamatkan dan dipelihara oleh Queenie (Taraji P.Henson), perempuan negro pengurus rumah jompo tersebut. Dia juga yang memberi nama si jabang bayi Benjamin.


Benjamin tumbuh tidak seperti anak-anak lainnya. Fisiknya sama tuanya dengan para penghuni rumah jompo yang rata-rata berumur 80 tahun. Untuk anak berusia tujuh tahun, ia tampak serenta 70 tahun : keriput, botak dengan hanya beberapa lembar rambut putih, mata lamur, dan tak mampu berjalan, sehingga harus memakai kursi roda. Tetapi, Queenie dan para lansia di sana mengasuhnya dengan penuh kasih sayang. Ia belajar membaca dan main piano dari mereka.


Keanehan terus berlangsung pada diri Benjamin. Seiring bertambahnya usia, fisiknya justru kian memuda. Ia semakin kuat dan tinggi. Tanda-tanda ketuaan di tubuhnya perlahan-lahan menghilang. Bahkan kemudian ia diterima bekerja sebagai anak buah kapal di bawah pimpinan Kapten Mike (Jared Harris). Ia berlayar ke seluruh dunia, meinggalkan rumah jompo dan seorang gadis cantik, Daisy (Cate Blanchett) yang diam-diam menyimpan cinta padanya.


Sementara Benjamin pergi, Daisy berhasil mewujudkan ambisinya menjadi balerina terkenal. Mereka tetap memelihara kontak lewat surat dan kartu pos. Benjamin sempat tergoda asmara sesaat dengan wanita bersuami yang dijumpainya di sebuah hotel.


Kisah unik Benjamin ini terinspirasi dari sebuah cerpen karya F.Scott Fitzgerald yang ditulis pada 1921. Kasus Benjamin ini akhirnya memang menjadi daya tarik utama film besutan David Fincher ini. Menyaksikan Benjamin tumbuh dengan cara yang berlawanan dengan umumnya makhluk hidup - bukannya bertambah tua tetapi justru semakin muda - menjadi sebuah bagian yang menakjubkan. Aku tidak tahu, apakah memang ada kasus medis seperti yang dialami Benjamin ini.


Yang pertama mendapat pujian dariku adalah untuk tim make upnya yang telah bekerja dengan gemilang mendandani para pemain, khususnya perubahan wajah Benjamin dari tua ke muda, dan perubahan Daisy dari muda ke tua. Keren banget.


Kedua, untuk akting Cate Blanchett sebagai Daisy (terutama saat dia terbaring sakit. Benar-benar kayak orang tua yang tengah sekarat). Sayang, dia tidak meraih nominasi untuk perannya tersebut.


Ketiga, untuk sutradara David Fincher yang telah dengan apik membuat film ini. Rapi dan detail banget filmnya, meskipun aku lebih senang seandainya berhenti cukup sampai ketika Benjamin (duh, Brad Pitt ganteng banget di sini, seperti di film-film pertamanya) muncul kembali menemui Daisy dan Caroline. Tetapi, Fincher memilih menuntaskannya hingga ada yang mati.


Bagaimana dengan si tampan Brad Pitt? Ah..ah...menurutku sih aktingnya tidak terlalu istimewa, kecuali saat dia menjadi lansia. Selanjutnya, ketika berubah muda lagi, ya dia kembali menjadi Brad Pitt deh :)


Aku sih merekomendasikan film ini untuk kamu tonton, terutama buat kamu yang senang film drama. Temponya agak lambat memang. Buat kamu yang tidak sabaran, bisa bete juga nontonnya. Film ini sarat pesan spiritual, khususnya untuk kita yang sering cemas karena menjadi tua. Padahal, menjadi semakin muda juga ternyata tidak lalu menyenangkan. Pilih mana, menjadi tua atau menjadi bayi kembali? :D ***

Rabu, 28 Januari 2009

Taxi Driver


Sutradara: Martin Scorsese
Skenario: Paul Schrader
Pemain: Robert de Niro, Cybill Shepherd, Jodie Foster
Tahun: 1976


Sebagai penggemar film-film jadul, Taxi Driver tentu salah satu film yang wajib ditonton. Entah kapan aku menonton untuk pertama kalinya film karya sutradara favoritku ini, Martin Scorsese. Ada kesan yang berbeda ketika menontonnya kembali sekarang. Juga ada rasa "lucu" menyaksikan wajah-wajah muda Robert de Niro dan Jodie Foster. Malah dilihat-lihat, kok Mr. De Niro ini jadi mirip si pemeran Spiderman ya? :) Sementara Jodie Foster, duuh..masih imut banget. Jelas saja, saat memerankan Iris, pelacur jalanan berumur 12 tahun, ia masih berusia 14 tahun! Dan dia sudah melakukan adegan ciuman di film ini. Juga adegan merokok. Tapi memang tidak sia-sia akting yang dia lakukan karena kemudian diganjar dengan mendapat nominasi Oscar untuk kategori Pemeran Pembantu Wanita Terbaik.


Ia bermain mendampingi aktor idolanya, Rodert de Niro yang berperan sebagai Travis Bickle, seorang veteran perang Vietnam yang beralih profesi menjadi sopir taksi. Ganteng banget deh Mas Robert di film ini : muda dan jantan. Sepertinya dia memang dilahirkan untuk menjadi aktor.


Dan apa yang bisa kukatakan untuk sutradara hebat Martin Scorsese kecuali 2 jempol untuknya? Di tangan dinginnya, rasanya setiap skrip akan menjelma film yang keren. Yang aku tandai dari film-film lelaki kelahiran 1942 ini adalah : darah. Ya, muncratan darah nyaris selalu ada dalam setiap film garapannya. Tak terkecuali Taxi Driver. Ingat saja Cape Fear (1991), Raging Bull (1980), dan Gengs of New York (2002). Tampaknya Robert de Niro merupakan bintang kesayangannya.


Taxi Driver bercerita tentang Travis, 26 tahun, seorang sopir taksi kesepian yang menderita insomnia. Mungkin sebagai akibat trauma perang Vietnam yang pernah dialaminya. Kadang-kadang, berhari-hari dia tidak tidur. Dia beroperasi di satu kawasan prostitusi di New York City.


Saat itu sedang berlangsung kampanye pemilihan presiden Amerika. salah satu kandidat terkuatnya adalah Senator Charles Palantine (Leonard Harris) yang memperoleh banyak dukungan di New York. Salah seorang pendukungnya adalah Betsy (Cybill Shepherd) yang bekerja sebagai volunteer tim kampanyenya.


Setiap hari Travis melewati kantor tempat Betsy bekerja. Dari dalam taksinya, Travis mengintai gerak-gerik wanita yang diam-diam ditaksirnya itu, hingga suatu hari Travis berhasil mengajak gadis cantik itu keluar makan siang. Celakanya, ketika kencan berikutnya, Travis membuat kesalahan fatal yang mengakibatkan Betsy ilfil.


Penolakan Betsy membuat hati Travis terluka. Ia marah. Ia butuh sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya. Dan yang kejatuhan sial adalah Sport, seorang germo yang mempekerjakan Iris (Jodie Foster), gadis di bawah umur sebagai pelacur.


Maka, baku tembak pun terjadilah. Darah berhamburan di layar penonton. Adegan aksi yang sangat riil dan enak ditonton (sadis banget ya aku?) Maksudku, adegan tersebut begitu..hmm...nyata. De Niro memang keren. Dia memperlihatkan akting yang gemilang: perubahan karakter dari seorang pendiam menjadi pemarah yang ekstrem sekaligus juga lelaki berhati lembut yang sangat sensitif.


Begitu pun Jodie Foster. Sebagai pelacur jalanan, dia benar-benar lebur dalam perannya. Perhatikan ketika ia merayu Travis, membuka kancing kemejanya (kancing kemeja Travis), ikat pinggangnya....Benar-benar seperti pelacur profesional. Dia akan selalu jadi aktris favoritku bersama-sama Meryl Streep dan Meg Ryan.***

Minggu, 25 Januari 2009

The Holiday


Sutradara: Nancy Meyers
Skenario: Nancy Meyers
Pemain: Cameron Diaz, Kate Winslet, Jude Law, Jack Black
Masa putar: 138 menit
Tahun: 2006


Inggris menjelang Natal. Salju berjatuhan dari langit laksana serpihan kapas. Udara dingin membekukan tulang. Di sebuah kantor penerbitan tengah berlangsung pesta menjelang libur Natal yang panjang. Seluruh orang bergembira, kecuali Iris Simpkins (Kate Winslet) yang remuk hatinya karena cowok yang dikencaninya selama 3 tahun malam itu mengumumkan pertunangannya dengan gadis lain. Iris membawa pulang hatinya yang hancur bagai kepingan salju.


Sementara itu, nun jauh di LA, Amerika Serikat, seorang gadis sukses kaya raya juga tengah mengalami nasih yang mirip dengan Iris. Amanda Woods (Cameron Diaz) baru saja putus dengan pacarnya yang kedapatan selingkuh.


Kedua gadis yang terpisah jauh ini sama-sama gundah dan ingin suasana baru untuk menghibur hati mereka. Maka, lewat internet mereka sepakat untuk saling bertukar rumah selama liburan Natal dan Tahun Baru itu.


Iris yang berasal dari sebuah desa di Inggris girang bukan main ketika tiba di LA dan mendapati rumah megah Amanda yang akan dia tinggali sepanjang liburan. Iris tipe gadis Inggris konservatif dengan model rambut dan busana yang terkesan klasik itu tak butuh waktu lama untuk mendapatkan kesenangan liburannya. Dengan segera ia memiliki teman : seorang penulis terkenal berumur 90 tahun dan Miles (Jack Black), seorang pria Amerika yang santun.


Kisah liburan Amanda tak kalah seru. Ia yang terbiasa dengan kehidupan kota besar pada awalnya harus tergagap-gagap menyesuaikan diri dengan alam pedesaan dan pondok mungil Iris yang sangat Inggris. Mirip pondok dalam dongeng-dongeng klasik yang memiliki perapian di dalamnya serta cerobong asap menjulang di atapnya; menjadi pemandangan yang paling indah di film ini.


Baru beberapa jam saja Amanda sudah mati gaya. Ia memutuskan pulang kembali ke Amrik. Namun, niat tersebut urung berkat kedatangan Graham (Jude Law...OMG, tampan sekaleeee *glek), kakak lelaki Iris. Sudah bisa ditebak dong apa yang terjadi di antara mereka kemudian? (ooh..aku mau jadi Amanda! :D)


Yayaya...ceritanya memang sangat Hollywood :romantis, segar, dan happy ending. Sangat pas sebagai hiburan malam libur Imlek (daripada nonton teve yang isinya debat politik melulu itu). Setidaknya jelas lebih enak menikmati wajah tampan Jude Law ketimbang menyaksikan lagak tengil para politisi karbitan yang sibuk jual bacot menjelang Pemilu itu.


Sungguh, aku rasa film ini memang sengaja dibuat untuk semata-mata menghibur penontonnya seperti halnya karya-karya Meyers yang lain: Something Gotta Give (2003) dan What Women Want (2000).

Charlie and the Chocolate Factory


Sutradara: Tim Burton
Skenario: John AugustPemain: Johnny Depp, Freddie Highmore, David Kelly, dll.
Masa putar: 115 menit
Tahun: 2005


Aku nonton film ini setelah selesai membaca bukunya. Buku cerita anak-anak karya Roald Dahl dengan judul yang sama: Charlie and the Chocolate Factory. Buku yang terbit pertama kali tahun 1964 ini telah memesonaku sehingga aku langsung kepingin nonton filmnya. Kebetulan pula bintangnya adalah Johnny Depp, salah satu aktor favoritku.

Maka, nontonlah aku dengan ingatan yang masih segar tentang bukunya. Dan ternyata filmnya sama keren seperti bukunya. Film yang dibesut oleh Tim Burton ini tergolong film yang setia pada novelnya. Tim kreatifnya cukup berhasil menjelmakan teks menjadi gambar-gambar yang bagus. Pabrik cokelatnya terlihat sangat fantastis. Mereka juga sukses membuat adegan Violet yang membiru dan menggelembung serta Mike Teavee yang menjadi setipis kertas!

Sementara itu, karakter Mr. Wonka diperankan dengan gemilang oleh Johnny Depp. Pun keempat kakek nenek Charlie benar-benar seperti yang aku bayangkan tentang orang-orang tua uzur berumur 96,5 tahun. Yang aku juga suka adalah lagu-lagu yang dinyanyikan para makhluk bernama Oompa-Loompa. Sayangnya, para pemain anak-anaknya tampil tak terlalu istimewa.

Cerita yang diangkat dari buku Roald Dahl ini adalah tentang Charlie Bucket, bocah lelaki berumur 10 tahun. Ia tinggal di sebuah pondok yang nyaris rubuh bersama kedua orang tuanya dan empat orang kakek nenek yang hanya sanggup berbaring sepanjang waktu di satu-satunya ranjang besar di pondok tersebut. Ayah Charlie bekerja di pabrik odol sebagai tukang pasang tutup tube odol. Mereka miskin sekali sehingga hanya mampu makan sup kubis encer setiap hari.

Tak jauh dari pondok reyot mereka, berdiri dengan sangat megahnya sebuah pabrik cokelat kepunyaan Mr. Wonka. Setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah, Charlie lewat di depan pabrik tersebut. Dari kakeknya, Charlie mendengar kisah tentang Mr. Wonka dan pabrik cokelatnya yang pernah untuk beberapa waktu ditutup lantaran disusupi mata-mata dari pabrik pesaingnya. Mereka berhasil mencuri resep rahasia dari pabrik Mr. Wonka.

Tetapi lalu pabrik tersebut beroperasi lagi dan kembali menghasilkan aneka cokelat dan kembang gula yang jauh lebih lezat; yang ragam rasanya semula hanya sanggup dibayangkan. Namun ada yang aneh dengan pabrik itu. Di sana tidak tampak satu orang pun pekerja. Gerbangnya senantiasa tertutup rapat. Hanya suara deru mesin dan kepulan asap beraroma cokelat cair yang keluar dari cerobong-cerobong pabrik saja yang menandakan di dalamnya ada kegiatan. Lalu, siapa yang mengoperasikan pabrik sebesar itu? Mustahil jika hanya dilakukan oleh Mr. Wonka seorang diri.

Kelak akhirnya diketahuilah rahasia itu ketika melalui sebuah sayembara Mr. Wonka mengundang lima orang anak yang beruntung mendapatkan tiket emas di dalam kemasan cokelatnya untuk berkunjung ke pabriknya. Salah satu bocah bernasib baik itu adalah Charlie.

Di bukunya tidak pernah diungkapkan siapa dan apa latar belakang kehidupan Willy Wonka. Di filmnya, bagian yang “bolong” itu ditutupi. Upaya yang patut dipuji karena berhasil menjadikan cerita film lebih membumi. Ending-nya pun agak sedikit dipelintir. Alhasil jadi terasa lebih menyentuh dan manusiawi. Sebagaimana bukunya, film yang pernah dibuat juga pada 1971 dengan judul Willy Wonka & the Chocolate Factory (Mel Stuart) ini sangat menghibur. Terutama buat kamu yang menggandrungi Johnny Depp, sebab dialah bintangnya. Aku suka Johnny Depp. Aku suka Roald Dahl. Aku suka cokelaaaat….!***

Senin, 12 Januari 2009

Perempuan Berkalung Sorban



Judul: Perempuan Berkalung Sorban
Sutradara: Hanung Bramantyo
Skenario: Hanung Bramantyo & Ginatri S.Noor
Pemain: Revalina S.Temat, Oka Antara, Widyawati, Reza Rahadian, Joshua Pandelaki
Produksi: Starvision
Masa putar:
Tahun: 2009

Perempuan Berkalung Sorban menjadi film pertama yang saya tonton di tahun 2009. Pertama kali saya tahu tentang film ini dari Abidah El Khaleiqy yang adalah penulis novelnya (si Mbak ini muncul juga satu kali sebagai dosen sastra yang sedang memberi kuliah). Novelnya telah terbit sejak 2001. Baru difilmkan tahun ini barangkali karena sekaranglah saatnya yang tepat, menyusul sukses Ayat-Ayat Cinta .

Sayang sekali, sampai menonton filmnya saya belum selesai menamatkan bukunya yang baru saya beli Jumat lalu (penting gak sih informasi ini? :D). Tetapi walaupun demikian, dari hasil pembacaan yang baru sedikit itu, saya bisa menduga film garapan sutradara muda yang sukses membesut Ayat-Ayat Cinta ini adalah film yang bicara ihwal kesetaraan lelaki dan perempuan dalam Islam. Tema yang cukup sensitif di negeri yang masih sangat patriarki ini.

Adalah Anissa (Revalina S.Temat), putri bungsu K.H. Hanan Abdul Malik (Joshua Pandelaki) pemilik pondok pesantren putri Al Huda, yang sangat ingin belajar naik kuda seperti kedua kakak lelakinya, Reza (di bukunya bernama Rizal) dan Wildan. Namun, tentu saja sang ayah tak mengizinkan dengan alasan karena perempuan, seorang muslimah, tidak pantas berkuda.

Agaknya bukan cuma soal urusan berkuda saja Anissa mengalami diskriminasi, tetapi juga untuk banyak hal lain. Misalnya, tidak boleh keluar rumah tanpa ditemani pria yang menjadi muhrimnya, tidak boleh makan sambil bicara, tidak pantas sekolah tinggi-tinggi. Kelak setelah Anissa dewasa. Ia masih harus menambahkan dalam daftar “tidak boleh” itu sejumlah hal lagi: tidak boleh menolak kemauan suami yang ingin mengajak bersetubuh kapan pun; tidak boleh berinisiatif mengajak suami bersetubuh; dan tidak boleh meminta cerai. Jika aturan itu dilanggar, maka Allah beserta seluruh isi dunia dan akhirat akan melaknat.

Oleh karena ini film yang ingin bicara soal kesetaraan, tentu harus ada seseorang yang memberontak dan menentang semua itu. Siapa lagi jika bukan Annisa. Sudah pasti agar ceritanya lebih seru, mesti diciptakan konflik. Dan terjadilah konflik itu antara Nisa dan ayahnya yang puncaknya pecah saat Nisa dipaksa kawin dengan Syamsudin (Reza Rahadian), anak seorang kyai kaya raya sahabat baik sang ayah. Sebenarnya perkawinan tersebut lebih bermotif ekonomi sebab Kyai Abdul Malik berambisi memperbesar pesantrennya dan itu hanya bisa terwujud jika Nisa menikah dengan Udin yang ayahnya kerap menyantuni Al Huda.

Oh, Annisa yang kritis tentu tidak mau. Ia masih ingin menggapai cita-citanya kuliah di Al Azhar, Kairo, menyusul pemuda pujaan hatinya, Khudori (Oka Antara). Namun, apalah dayanya sebagai seorang anak yang masih sangat bergantung kepada orang tua sementara sang kekasih tengah berada jauh di negeri orang.

Hu..hu..hu..ternyata si Udin bukanlah suami yang baik. Selain suka mabuk-mabukan, Udin juga senang main perempuan. Akibatnya, suatu hari ia harus bertanggung jawab karena telah membuat hamil seorang perempuan. Lagi-lagi Nisa tak kuasa menolak nasib yang disodorkan kepadanya. Ia harus mau menerima kehadiran madunya di dalam rumahnya. Sebab, Islam mengizinkan poligami.

Sementara itu, Khudori telah kembali dari Kairo dengan membawa cintanya untuk Nisa. Tetapi sebagai lelaki yang baik, ia tak mungkin merebut Nisa dari suaminya. Hingga pada suatu hari Udin memergoki mereka sedang berdua-dua di kandang kuda. Udin kalap. Ia mengamuk dan saat itu juga mengucapkan talak kepada istrinya.

Adegan ini paling berkesan buat saya. Anissa dan Khudori yang dituduh berzina harus menerima hukum rajam dengan dilempari batu oleh warga setempat. Ketika orang-orang mulai menghujani mereka dengan batu, ibu Anissa (Widyawati) maju membela putri satu-satunya itu. Digenggamnya sebongkah batu sebesar kepalan tangan dan berkata, “Hanya mereka yang merasa tidak berdosa saja yang boleh melempar”.

Cukup ya untuk gambaran filmnya. Kini komentar untuk filmnya.

Tema
Isu kesetaraan ini tema yang belum banyak dilirik sineas kita. Apalagi yang berlatar belakang Islam. Biasanya bila tak cerdik menyiasati, tema-tema yang menyinggung sebuah agama, berpotensi menuai kritik dan kecaman. Syukur kalau cuma berhenti sampai di mengecam saja. Yang gawat kan jika akhirnya dilarang diputar. Jangankan tema, judul film saja, bisa jadi masalah serius di negeri kita ini. Salut deh untuk Hanung dan Starvision yang sudah berani menfilmkannya.

Akting
Rata-rata para pemainnya berakting standar saja, termasuk aktris senior Widyawati. Yang agak cemerlang justru Reza Rahadian. Sebagai Udin dia mampu menghidupkan karakter laki-laki jahat dan licik yang sangat menyebalkan. Gayanya yang sok dan tengil itu benar-benar menjengkelkan. Rasanya saya ingin ikut menampar wajah mesumnya J

Detail
Lumayan cermat penggarapannya. Hanya ada satu yang menjadi pertanyaan saya, mengapa Anissa tidak pernah melepas kerudungnya meskipun ia sedang tidur bersama suaminya? Juga soal mesin ketik. Terasa kuno dan tidak cocok berada di sebuah kantor women crisis centre di Yogyakarta pada tahun 2001 (seting cerita). Mestinya sudah berganti dengan komputer, bukan?
Juga “pemandangan” piramid di luar jendela kamar Khudori di Mesir, tampak terkesan dipaksakan.

Poster
Aku suka posternya. Keren. Kuat sekali menggambarkan makna seorang perempuan muslim yang melawan arus.

Sound track
Lumayan enak, dibawakan oleh Siti Nurhaliza.

Lain-lain
Secara keseluruhan film ini oke. Sayang, masih ada beberapa bagian yang maunya menyisipkan pesan moral tetapi karena penyampaiannya masih mengandalkan cara-cara verbal, akibatnya malah jadi seperti khotbah. ***