Perang Itu Cara Paling Primitif
Perkara keindahan lanskap, Papua ibarat sepotong surga yang dilemparkan Tuhan ke dunia. Tetapi untuk urusan kemakmuran dan kesejahteraan, mungkin bagai neraka bagi kebanyakan rakyat di sana. Kekayaan alam yang melimpah rupanya tidak berbanding lurus dengan kondisi sosial ekonomi penduduknya yang mayoritas masih mendiami perkampungan tradisional yang kental dengan hukum adat dalam menyelesaikan segala konflik dan persoalan. Rendahnya tingkat kemampuan ekonomi rakyat di sana barangkali hanya bisa disaingi oleh tingkat pendidikannya.
Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan oleh film terbaru Alenia Pictures yang berjudul Di Timur Matahari. Ini film ketiga mereka yang mengambil seting kawasan timur Indonesia setelah Tanah Air Beta (2010) dan Serdadu Kumbang (2011) dan disutradarai oleh Ari Sihasale. Formula andalan dari ketiga film yang temanya mirip satu sama lain itu ada 3: Pertama, memanjakan mata penonton dengan gambar-gambar indah pemandangan alam Indonesia Timur yang masih jarang dijamah beserta keunikan budaya dan adat istiadatnya. Kedua, ceritanya tentang orang miskin (biasanya anak-anak) yang berjuang meraih impian. Dan ketiga, menyertakan pemain lokal sebagai tokoh utamanya. Ditambah sedikit bumbu politik berupa kripik (eh, kritik) pedas terhadap negara (pemerintah) yang kurang peduli kepada rakyatnya di kawasan timur.
Ketika dalam opening-nya Di Timur Matahari ini menampilkan scene anak-anak Papua berseragam merah putih di sebuah sekolah dasar yang ditinggal guru mereka cuti selama 6 bulan, saya sempat curiga film ini akan seperti Laskar Pelangi atau Serdadu Kumbang. Untunglah, kecurigaan saya tidak terbukti. Anak-anak sekolah yang tidak bersepatu itu hanya salah satu problem di sana yang tidak menjadi konflik utama. Saya sempat nyengir juga ketika “Himne Guru” menjadi lagu pembuka film ini. Kalau saya guru, muka saya pasti sudah merah karena merasa tersindir berat.
Cerita utamanya adalah ikhwal suku-suku di Lembah Tiom yang masih sering memilih berperang sebagai cara menyelesaikan sebuah konflik antarsuku ketimbang memakai cara-cara damai. Mata harus dibayar mata, begitu hukum adat yang berlaku. Nyaris tak ada yang mempu mencegah. Tidak juga ayat-ayat Alkitab yang diucapkan oleh Pendeta Samuel (Lukman Sardi) maupun Dokter Fatima (Ririn Ekawati) yang mengancam tidak akan mau menolong para lelaki yang terluka karena perang suku itu. Perang tetap terjadi, menghanguskan honai-honai, menghanguskan kasih sayang, menghanguskan perdamaian.
Film ini agak kebanyakan tokoh, sehingga akhirnya tak ada satu tokoh pun yang mendapat porsi menonjol sebagai fokus utama. Ada Pendeta Samuel, ada Dokter Fatima, ada Michael dan Vina (Laura Basuki), dan ada Mazmur (Simson Sikoway), bocah malang yang kematian ayah. Apalagi tokoh Vina (meskipun akting Laura Basuki patut dipuji di sini), menurut saya sih kehadirannya tidak penting. Tanpa dia pun jalan cerita tidak akan berubah.
Satu hal lagi yang buat saya cukup mengganggu adalah bagian endingnya yang agak-agak “fiksi”. Mengingatkan saya pada drama Natal di panggung sekolah :D.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar